Kabar Unik - kakong" Para pamiarsa kakung dumawah putri, pangapunten hambok bilih dangu kula boten post blog menika. "

Selasa, 15 Desember 2009

Untuk mempermudah informasi tentang pelaksanaan sertivikasi guru tahun 2010, kami tautkan link SERTIVIKASI GURU

Senin, 14 Desember 2009

Kemampuan Dasar Matematika masih Kurang

Sebagai pengajar kelas XII IPA, saya merasa prihatin dengan kemampuan dasar yang dikuasai oleh siswa. Mulai dari Operasi dasar pipolando (ping,para lan sudo ): Jawa, dalam matematika ( x,:,+,-). Kelas XII sebagai kelas tingkatan menengah yang tertinggi ternyata belum menggambarkan kemampuan yang sebenarnya tentang penguasaan pelajaran Matematika. Belum lagi materi aljabar tentang pemfaktoran, persamaan linier dan persamaan kuadrat dll. Saya merasa berat dalam mengantarkan siswa untuk melangkah ke UNAS yang segera dilaksanakan. Tapi Bagaimana lagi... ini memang haraus dihadapi dan dijalani. dengan segala metode saya mencoba untuk menggairahkan siswa agar meningkatkan kemampuan dasar yang dipunyai. Karena hampir semua materi yang berhunungan dengan perhitungan selalu menggunakan persamaan linier maupun persamaan kuadrat. Ya Allah berikan jalan dan petunjuk agar Aku bisa mengantar siswa-siswi ku lulus dalam UAN 2010 nanti. AMien.

Manusia adalah pembelajar

Rohadi Wicaksono 05 Desember jam 1:47 Balas
Kalau kita menyimak dan memperhatikan perjalanan sejarah umat manusia, kita dapat menyimpulkan bahwa manusia adalah makhluk pembelajar (man of learner). Buktinya, dalam banyak hal dan banyak bidang, pemahaman, pengertian dan penguasaan manusia tentang sesuatu obyek semakin baik dan sempurna. Itu artinya, seorang manusia atau sekelompok manusia dapat belajar dari generasi ke generasi, menerima transfer pengetahuan dan nilai-nilai dari generasi sebelumnya, tetapi kemudian sekaligus mampu mengoreksi dan mengembangkannya menjadi sesuatu yang baru.
Nah, pada konteks inilah saya ingin memulai membahas tentang manusia pembelajar ini. Hal ini penting karena banyak pandangan telah keliru memahami hakekat belajar yang sesungguhnya.
Menurut memat saya, hakekat belajar memuat dua pola pembelajaran. Artinya hendaknya dalam proses belajar, kita memerlukan dan memperhatikan 2 jenis mata belajar. Jenis yang pertama, saya sebut sebagai belajar memahami, mengerti, menghayati sekaligus akhirnya menguasai suatu subyek pengetahuan atau keterampilan tertentu. Kedua, adalah jenis pembelajaran yang saya sebut dengan belajar bagaimana belajar (learn how to learn) atau boleh juga disebut dengan teknologi pembelajaran. Tujuan mempelajari teknologi pembelajaran ini adalah untuk menunjang jenis pembelajaran yang pertama sehingga dapat berlangsung dengan lebih tepat, cepat, efisien, dan mudah.
Apa yang kita pelajari dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi dengan bidang-bidang ilmu yang makin terspesialisasi, adalah contoh-contoh dari pembelajaran jenis yang pertama itu. Cilakanya, porsi terbesar dari sistem pendidikan kita, dan banyak sistem pendidikan di negara-negara lain, khususnya dunia ketiga, pada saat ini adalah pembelajaran jenis yang pertama ini.
Paradigma yang dipergunakan adalah bila Anda tidak menguasai salah satu dari sekian banyak bidang-bidang ilmu/keterampilan yang makin terspesialisasi ini, jangan harap Anda dapat diterima, eksis, atau bahkan dapat hidup di tengah-tengah masyarakat. Mengapa? Karena penguasan salah satu disiplin ilmu ini menjadi syarat bagi, misalnya di dunia kerja, tidak peduli meskipun apakah kemudian yang menjadi pekerjaannya nanti sesuai dengan disiplin ilmunya atau tidak, terampil atau tidak. Yang penting punya ilmu yang dibuktikan dalam selembar kertas ijasah. Pembelajaran jenis pertama ini pada dasarnya adalah untuk mengisi kebutuhan dunia usaha/industri. Ini yang menjadi sebab banyak orang-orang sukses di dunia bisnis bukanlah mereka yang bergelar atau berpendidikan tinggi. Tetapi, justru orang-orang ”sekolahan” ini yang ”mengabdi” pada orang-orang ”sukses” yang tidak berpendidikan tinggi, tapi mereka kreatif, berani dan tidak terbebani oleh penjara pikiran dari pengetahuan yang diperolehnya di sekolah.
Untuk menjalankan paradigma atau pembelajaran jenis yang pertama ini, sebenarnya sangat mudah dan tidak perlu berpikir terlalu keras. Sebab suatu bangsa tidak perlu susah-susah melakukan riset, mengembangkan ilmu-ilmu baru, dan seterusnya karena ilmu-ilmu itu atau buku-buku yang diperlukan untuk menunjang jenis pembelajaran pertama ini relatif sudah tersedia dengan melimpah. Dan kita dengan mudah dapat mengimpornya dari luar negeri atau paling jauh menerjemahkan atau menulis ulang buku-buku karya pakar-pakar luar negeri.
Kemampuan tertinggi dari pembelajaran jenis pertama ini adalah diperolehnya kemampuan menjelaskan teori-teori yang dipelajarinya itu dengan sempurna, tanpa cela, persis seperti penciptanya. Itu saja dan tidak lebih. Tentu dengan perkecualian terhadap ilmu-ilmu rekayasa (engineering science), namun meski demikian, jumlahnya amat minim.
Pada dasarnya, pola pembelajaran jenis pertama ini tidak akan serta merta menjadi sebab berkembangnya ilmu-ilmu baru. Penyebab lahirnya ilmu-ilmu baru berada di luar jenis pembelajaran pertama ini. Pandangan ini jarang sekali dibahas atau dibicarakan oleh kebanyakan orang, bahkan para pakar sekalipun. Itu sebab kita sering berputar-putar pada persoalan-persoalan yang sama dan cenderung bertambah ruwet.
Akhirnya kita menghadap akibat atau dampat dari pola pembelajaran jenis ini ternyata cukup luas, dengan gambaran sebagai berikut :
1. Tidak jarang kita menjumpai 2 orang/kelompok atau lebih, dengan dasar teori yang sama, ternyata saling serang dan berselisih paham.
2. Kita cenderung tidak menjadi orang yang produktif karena kita sibuk ”belajar” ilmu-ilmu ciptaan orang lain, lupa mengembangkan ilmu sendiri.
3. Dalam iklim kompetitif, kita lebih cenderung untuk ”merebut” dan ”bersaing” (red ocean strategy) daripada berkreasi dan mengembangkan alternatif atau mengembangkan sesuatu yang baru (blue ocean strategy).
4. Terjebak pada cara berpikir menang-kalah (win-lose), sebagai pengaruh dari paradigma survival of the fittest dari teori evolusi Charles Darwin, dan dialektika materialism Marx, Engel dan Feurbach, ketimbang berpikir menang-menang (win-win).
5. Pada akhirnya banyak ilmuwan kita malas berpikir dan bekarya, malas menulis buku, apalagi melakukan riset.
6. Banyak ilmu-ilmu ”impor” yang tidak applicable atau diterapkan tanpa disesuaikan dengan kondisi negeri sendiri, sehingga Indonesia makin tergantung pada prinsipal (pemilik teknologi atau pemegang paten) di luar negeri.
7. Pemerintah pada akhirnya dengan berdalih anggaran, enggan membiayai program-program riset dan pengembangan ilmu. Pemerintah sepertinya lebih percaya ”produk” ilmu-ilmu karya pakar-pakar luar negeri (apalagi yang berbau barat), daripada karya anak bangsa sendiri.
8. Timbul budaya pikiran baru hasil dari budaya instan, yakni ”Ngapain susah-susah mikir, biar saja orang lain (baca: bangsa lain) yang mikir, kita tinggal beli produknya, bukunya, atau sekolahkan ke luar negeri, lalu kita tinggal pakai, beres deh!”
9. Ujungnya adalah kita jadi bangsa yang tidak produktif, tidak kreatif, dan tidak inovatif dalam segala bidang. Meminjam istilah (sindiran) Cak Nur (Dr. Nurcholis Madjid, Alm.) yang disampaikan pada saat diskusi di Lembaga Teknologi Mahasiswa Islam (LTMI) Surabaya pada 1991 (yang kebetulan penulis pada saat itu adalah Ketua Umumnya), bahwa bangsa Indonesia pada pada saat ini adalah bangsa yang ’simple minded nation’ (bangsa yang berpikirnya sederhana), dan cenderung ”konsumtif” terhadap ilmu-ilmu karya ilmuwan-ilmuwan luar negeri (barat). Lebih lanjut Cak Nur mengatakan bahwa apabila kita ingin Indonesia menjadi bangsa yang produktif (dari sisi ilmu pengetahuan dan teknologi), kita harus memiliki energi yang besar mendorong potensi sumber daya manusia menjadi manusia-manusia yang berkualitas, cerdas dan kreatif. Caranya? Cak Nur bilang kembangkan budaya membaca.
10. Dan banyak lagi daftar konsekuensi yang bisa Anda tambahkan disini.

Itulah potret kita hari ini. Kalau disimpulkan dalam perspektif negatif, kita sebenarnya sedang menjalani sebuah proses pengerdilan dan pembodohan besar-besaran agar kita tidak mampu menjadi bangsa yang produktif dan mandiri dalam segala bidang, termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Artinya, pada akhirnya kita hanya boleh menjadi bangsa coeli di negeri sendiri. Anda mau?
Itulah penting dan perlunya kita belajar pola pembelajaran jenis yang kedua. Kita akan bahas jenis pembelajaran kedua ini pada diskusi yang akan datang. Yang jelas, Anda semua pasti tidak ingin bangsa kita menjadi bangsa yang bodoh dan dapat dibodohi oleh bangsa lain. Kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang cerdas, insya Allah. Ini bukan basa-basi. Persoalannya terletak pada bagaimana citra diri bangsa yang besar ini tertanam dalam sanubari kita, dan melandasi semangat dan motivasi untuk mewujudkannya.
Bangsa kita sudah membuktikan bahwa kita bisa bikin pesawat terbang dengan tokohnya BJ Habibie. Di dunia auronotik ini, kita akan menjumpai Formula, Konstanta dan Postulat Habibie. Kita juga punya ahli chip analog, Dr. Sutahat, yang juga CEO Marvel Inc, produsen chip yang chipnya tertanam dalam jutaan ponsel di seluruh dunia. Kita juga mempunyai bibit-bibit unggul yang sangat potensial di bidang science yang menjadi jawara-jawara di olimpiade-olimpiade science internasional.
Kalau diberi atau ada kesempatan, sebenarnya kita mampu. Karena itu, kita harus optimis bahwa sekalipun kita masih berada di tengah keterpurukan pasca reformasi, bahkan carut marut bangsa kita belakangan ini yang cukup memprihatinkan, kebangkitan bangsa kita pasti masih bisa diwujudkan! Kita harus belajar mengambil hikmah dari apa yang terjadi pada bangsa kita saat ini. Kemudian tatap masa depan, dan berbuatlah yang terbaik untuk bangsa kita.
Bagaimana menurut Anda?

Artikel ini ditulis Oleh Bagus Teruno Legowo
( Beranda komunitas pendidikan )

RESEP KECERDASAN OTAK ANAK

Artikel Dr Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Stephen
menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada 3 tahun di Israel
karena menjalani housemanship dibeberapa rumah sakit di sana. Dirinya
melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan
tesisnya, yai...tu, “Mengapa Yahudi Pintar?"

Ketika tahun kedua,
akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari untuk pulang
ke California, terlintas di benaknya, apa sebabnya Yahudi begitu
pintar? Kenapa tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu
kebetulan? Atau hasil usaha sendiri?

Maka Stephen tergerak
membuat tesis untuk Phd-nya. Sekadar untuk Anda ketahui, tesis ini
memakan waktu hampir delapan tahun. Karena harus mengumpulkan data-data
yang setepat mungkin.

Marilah kita mulai dengan persiapan awal
melahirkan. Di Israel, setelah mengetahui sang ibu sedang mengandung,
sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano. Si ibu dan bapak akan
membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama suami.

Stephen
sungguh heran karena temannya yang mengandung sering membawa buku
matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan.
Kebetulan Stephen suka matematika.

Stephen bertanya, "Apakah ini untuk anak kamu?"

Dia menjawab, "Iya, ini untuk anak saya yang masih di kandungan, saya sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius."

Hal ini membuat Stephen tertarik untuk mengikut terus perkembangannya.

Kembali ke matematika tadi, tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan latihan matematika sampai genap melahirkan.

Hal
lain yang Stephen perhatikan adalah cara makan. Sejak awal mengandung
dia suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah
hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang
dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan.

Menurut
wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan
kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merusak
perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Ini adalah
adat orang orang Yahudi ketika mengandung. menjadi semacam kewajiban
untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan.

Ketika
diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi. Begitu Stephen
menceritakan, "Perhatian utama saya adalah menu mereka. Pada setiap
undangan yang sama saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan
(hanya isi atau fillet),"
ungkapnya.

Biasanya kalau sudah ada
ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja.
Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan
bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam.

Uniknya,
mereka akan makan buah buahan dahulu sebelum hidangan utama. Jangan
terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan
buah buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat
(nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita
merasa ngantuk.
Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.

Di
Israel, merokok adalah tabu, apabila Anda diundang makan dirumah
Yahudi, jangan sekali kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh
Anda keluar dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah
mereka.

Menurut ilmuwan di Universitas Israel, penelitian
menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan
akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa
generasi yang cacat otak ( bodoh). Suatu penemuan yang dari saintis gen
dan DNA Israel.

Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi
anak-anak Yahudi. Mereka sangat memperhatikan makanan, makanan awal
adalah buah buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil
minyak ikan (code oil lever).

Dalam pengamatan Stephen,
anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata rata mereka memahami tiga bahasa,
Hebrew, Arab dan Inggris. Sejak kecil mereka telah dilatih bermain
piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban.
Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar.

Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak. (apalagi suara ngaji..)

Tak heran banyak pakar musik dari kaum Yahudi.

Seterusnya
di kelas 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar matematika berbasis
perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan
Stephen, "Perbandingan dengan anak anak di California, dalam tingkat
IQ-nya bisa saya katakan 6 tahun kebelakang!! !" katanya.

Segala
pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi. Selain dari
pelajaran tadi olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga
yang diutamakan adalah memanah, menembak dan berlari.
Menurut teman
Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat melatih otak fokus.
Disamping itu menembak bagian dari persiapan untuk membela negara.

Selanjutnya
perhatian Stephen ke sekolah tinggi (menengah). Di sini murid-murid
digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan
produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan
memboroskan, tetap diteliti dengan serius.
Apa lagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis dan teknik. Ide itu akan dibawa ke jenjang lebih tinggi.

Satu
lagi yg di beri keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh
terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka belajar
ekonomi. Diakhir tahun diuniversitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan
proyek. Mereka harus memperaktekkanya.
Anda hanya akan lulus jika team Anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $US 1 juta!

Anda terperanjat?

Itulah kenyataannya.

Kesimpulan
pada teori Stephen adalah, melahirkan anak dan keturunan yang cerdas
adalah keharusan. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan
semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin?

Kabar
lain tentang bagaimana pendidikan anak adalah dari saudara kita di
Palestina. MENGAPA ISRAEL MENGINCAR ANAK-ANAK PALESTINA Terjawab sudah
mengapa agresi militer Israel yang biadab dari 27 Desember 2008 kemarin
memfokuskan diri pada pembantaian anak-anak Palestina di Jalur Gaza.

Seperti
yang kita ketahui, setelah lewat tiga minggu, jumlah korban tewas
akibat holocaust itu sudah mencapai lebih dari 1300 orang lebih. Hampir
setengah darinya adalah anak-anak.

Selain karena memang tabiat
Yahudi yang tidak punya nurani, target anak-anak bukanlah kebetulan
belaka. Sebulan lalu, sesuai Ramadhan 1429 Hijriah, Ismali Haniya,
pemimpin Hamas, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah
HAFIDZ AL QUR`AN.

Anak-anak yang sudah hafal 30 juz Alquran ini
menjadi sumber ketakutan Zionis Yahudi. "Jika dalam usia semuda itu
mereka sudah menguasai Alquran, bayangkan 20 tahun lagi mereka akan
jadi seperti apa?" demikian pemikiran yang berkembang di pikiran
orang-orang Yahudi..

Tidak heran jika-anak Palestina menjadi
para penghafal Alquran. Kondisi Gaza yang diblokade dari segala arah
oleh Israel menjadikan mereka terus intens berinteraksi dengan
al-Qur'an. Tak ada main Play Station atau game bagi mereka.
Namun
kondisi itu memacu mereka untuk menjadi para penghafal yang masih
begitu belia. Kini, karena ketakutan sang penjajah, sekitar 500 bocah
penghafal Quran itu telah syahid.

Perang panjang dengan Yahudi
akan berlanjut entah sampai berapa generasi lagi. Ini cuma masalah
giliran. Sekarang Palestina dan besok bisa jadi Indonesia. Bagaimana
perbandingan perhatian pemerintah Indonesia dalam membina generasi
penerus dibanding dengan negara tetangganya.

Ambil contoh
tetangga kita yang terdekat adalah Singapura. Contoh yang penulis ambil
sederhana saja, Rokok. Singapura selain menerapkan aturan yang ketat
tentang rokok, juga harganya sangat mahal.

Benarkah merokok
dapat melahirkan generasi "Goblok!" kata Goblok bukan dari penulis,
tapi kata itu sendiri dari Stephen Carr Leon sendiri. Dia sudah menemui
beberapa bukti menyokong teori ini.
"Lihat saja Indonesia," katanya seperti dalam tulisan itu.

Jika
Anda ke Jakarta, di mana saja Anda berada, dari restoran, teater, kebun
bunga hingga ke musium, hidung Anda akan segera mencium bau asak rokok!
Berapa harga rokok? Cuma US$ .70cts !!!

"Hasilnya? Dengan
penduduknya berjumlah jutaan orang berapa banyak universitas? Hasil
apakah yang dapat dibanggakan? Teknologi? Jauh sekali. Adakah mereka
dapat berbahasa selain dari bahasa mereka sendiri? Mengapa mereka
begitu sukar sekali menguasai bahasa Inggris? Ditangga berapakah
kedudukan mereka di pertandingan matematika sedunia?


(diambil dari Beranda Komunitas Pendidikan)


Mesin Pembunuh Itu UNAS

Pada sebuah pagi, seorang anak lelaki kecil pulang terburu-buru dari sekolahnya. Tangannya yang lucu menenteng sepucuk surat dari gurunya. Sesampai di rumah, ia segera menghampiri ibunya seraya berseru : “Mama... mama, ada surat dari bapak guru.”
Sang ibu, Nancy Elliot, menyambut anak bungsu dari tujuh bersaudara ini dengan ciuman dan pelukan penuh kasih sayang. Ia ambil pucuk surat dari tangan bocah lucu itu. Dengan sedikit tergesa, dibukanya amplop surat tersebut.
Tangan Nancy tiba-tiba bergetar saat matanya mulai membaca kata demi kata dalam surat dari guru anaknya.
"Anak ini terlalu bodoh untuk dididik. Kami mengembalikannya kepada Anda. Mulai besok tidak perlu datang ke sekolah lagi."
Air mata Nancy mulai meleleh setelah membaca kalimat tersebut. Hancur hatinya membaca ‘amar putusan’ guru anaknya. Bagaimana mungkin, anak yang baru berusia 7 tahun, dan baru duduk di bangku sekolah selama 3 bulan, bisa mendapat keputusan sedahsyat itu ? Ia sangat kecewa dengan keputusan itu.
“Mengapa mama menangis ?” tanya si bocah tak paham.
Dengan mata berlinang air mata, si ibu meraih dan memeluk tubuh kecil itu. Dengan suara serak, dibisikkan kalimat ke telinga anaknya,
“Thomas, I educated you my self.”
Semenjak hari ‘naas’ itu, Thomas tak pernah lagi menginjakkan kaki di sekolah. Ibunya, yang kebetulan mantan guru, mengajarinya membaca dan berhitung. Dengan kesabaran dan ketekunan yang luar biasa, akhirnya Nancy mampu membuat Thomas bisa membaca dan berhitung dengan baik. Bahkan dari sistem pengajaran yang dikembangkan Nancy, Thomas tumbuh menjadi anak genius.
Thomas, yang diberi stigma ‘terlalu bodoh’ dan didrop-out dari sekolahnya itu, kemudian hari mampu menancapkan namanya dalam jajaran nama-nama ilmuwan yang paling terkemuka di muka bumi ini. Konon, tidak kurang dari 3000 penemuan tercatat atas namanya. Anak ‘yang terlalu bodoh’ itu adalah Thomas Alva Edison.
Dari ilustrasi di atas tampak bahwa sekolah Thomas tak mampu melihat bakat genius Thomas. Yang terlihat malah sebaliknya, Thomas adalah anak yang ‘terlalu bodoh’. Bisa jadi Nancy akan menyesal jika saja Thomas tidak di-DO dari sekolahnya. Anak seberbakat Thomas tak cocok dididik di sekolah ‘biasa’ yang menganggap semua muridnya memiliki kemampuan sama.
Dalam macam yang sedikit berbeda, nasib buruk seperti dialami Thomas, juga dialami oleh beberapa murid di negeri ini. Di tahun-tahun kemarin, banyak siswa berprestasi tidak lulus hanya lantaran gagal dalam ujian nasional. Sebut saja Siti Hapsah. Pada 2006, mimpinya kuliah di Institut Pertanian Bogor sirna gara-gara ujian ujian nasional. Ia dinyatakan tak lulus ujian nasional lantaran nilainya kurang 0,26.
Padahal, sebelum ujian, ia sudah dinyatakan lolos seleksi sebagai mahasiswa Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga IPB melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Siti selalu menduduki peringkat satu atau juara umum sejak duduk di bangku kelas 1 di Perguruan Rakyat II Jakarta Timur. Bahkan ada seorang murid dari SMA PSKD 7 Jakarta yang, namanya Melati, harus rela ‘membuang’ bea siswa dari luar negeri gara-gara tak lulus ujian nasional. ( diambil dari VIVAnews edisi 27 November 2009 ). Dan berita serupa masih banyak.
Ujian Nasional yang hanya dilaksanakan beberapa hari dan hanya menguji beberapa mata pelajaran saja tidak mungkin mampu menilai kemampuan murid secara memadai. Prestasi murid yang dibina selama 3 tahun dibantai melalui Unas hanya selama beberapa hari saja. Apakah ini bukan pelecehan HAM oleh pemerintah terhadap penduduknya ?
Sebagai masyarakat, tentu kita patut bersyukur saat MA menolak kasasi yang dilakukan pemerintah terkait dengan pelaksanaan Unas. Putusan tersebut menguatkan putusan Pengadilan Tinggi (PT) DKI Jakarta pada 6 Desember 2007, yang melarang pelaksanaan Ujian Nasional. Namun sayangnya, meski ada putusan MA di atas, pemerintah tetap ngotot akan mengadakan Unas untuk tahun 2010 ini.
Alasan yang digunakan pemerintah untuk tetap mengadakan unas adalah karena dapat digunakan untuk menentukan kelulusan, memetakan mutu pendidikan nasional dan seleksi masuk PTN. Barangkali alasan unas sebagai instrumen penentuan kelulusan murid telah banyak diprotes. Pertama, adalah tidak adil menilai prestasi murid selama 3 tahun hanya dalam waktu beberapa hari. Apalagi jika yang di-unas-kan hanya beberapa mata pelajaran saja. Apakah alat yang bernama unas itu cukup valid dan reliable sebagai alat ukur penentuan kelulusan murid ? Dan semakin aneh jika unas ini digunakan untuk menentukan kelulusan murid SMK. Bukankah SMK bertujuan mendidik murid untuk terampil dalam bidang pekerjaan tertentu ? Bagaimana mungkin pendidikan yang bertujuan mendidik untuk terampil tapi yang diuji sisi kognitifnya, apalagi materi ujiannya tidak sama dengan keterampilan yang diajarkan ?
Mengenai alasan unas sebagai alat untuk memetakan mutu pendidikan secara nasional, timbul pertanyaan, setelah dipetakan, sekolah-sekolah itu
mau diapakan ? Kalau setelah dipetakan, pemerintah punya tanggung-jawab membenahi sekolah-sekolah yang punya grade rendah, tentu baik-baik saja. Masyarakat pasti akan mendukung. Tapi kalo sekedar memberi label, misalnya sekolah A adalah kelompok muridnya pintar-pintar, sekolah B termasuk muridnya tidak terlalu pintar, dan sekolah D adalah sekolahnya anak bodoh, maka penistaan pemerintah terhadap murid-murid sungguh keterlaluan. Ini patut dilawan.
Sebagai alat seleksi masuk PTN ? Tentu bukan hal yang mudah. Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa pelaksanaan unas sering diwarnai oleh kecurangan-kecurangan. Hal ini telah terjadi bertahun-tahun. Hingga tahun kemarin pemerintah belum mampu mengatasinya. Kalau dipaksakan sebagai alat seleksi masuk PTN, pasti akan menimbulkan permasalahan-permasalah kebocoran yang lebih akut.

Tujuan Pendidikan adalah Mencerdaskan
Jika tujuan pendidikan adalah mencerdaskan, maka pendidikan haruslah mampu menggali seluruh potensi murid untuk dikembangkan. Hal ini supaya segenap kecerdasan yang dimiliki murid bisa ditumbuhkan secara optimal. Dengan adanya unas, maka segenap daya dan usaha sekolah dan murid hanyalah terfokus pada mengembangkan sisi kognitif, dan itu pun hanya untuk beberapa mata pelajaran saja.
Di banyak sekolah, untuk murid-murid kelas tiga hanya diberi pelajaran-pelajaran yang di-unas-kan saja. Pelajaran non unas diberikan asal-asalan. Begitu juga dengan muridnya. Waktu, tenaga dan dana yang mereka miliki hanya untuk mempelajari pelajaran-pelajaran unas. Pelajaran lain, mereka abaikan. Alasanya, tidak mempengaruhi kelulusan.
Bukankah dengan begitu berarti adanya unas telah mengorbankan ( membunuh ) kecerdasan lain yang dimiliki murid ? Padahal kecerdasan lain itu sangat berguna untuk hidup di masyarakat. Justru, kecerdasan yang diukur oleh unas nyaris tidak ada gunanya di dunia kerja mau pun masyarakat umum. Coba saja, mana ada perusahaan yang menerima pekerja dengan melihat nilai unas dari calon pekerja tersebut. Demikian juga untuk hidup di masyarakat, pelajaran-pelajaran yg di-unas-kan sangat kecil relevansinya.
Jadi, kita patut heran, mengapa pemerintah terus ngotot mengadakan unas ?
Sebagai penutup tulisan ini, saya ingin mengemukakan apa yang disampaikan oleh sosiolog Imam Prasodjo di dalah satu TV swasta. Kira-kira begini singkatnya :”Sebelum pemerintah melakukan standardisasi pada murid-murid, harusnya melakukan standardisasi terhadap fasilitas-fasilitas pendidikan yang ada. Pemerintah harus melengkapi fasilitas-fasilitas yang kurang standard di sekolah-sekolah. Jika belum mampu melakukan upaya melengkapi fasilitas pendidikan yang ada hingga mencapai standard, maka tidak selayaknya pemerintah melakukan standardisasi pada murid-murid.”
Dan jika belum mampu menstandardkan fasilitas pendidikan dan masih ngotot menstandardisasikan murid-murid, maka pengambil kebijakan yang ngotot tetap melaksanakan unas ini harus distandardkan dulu otaknya. Jangan-jangan mereka ini gradenya sebagai pengambil kebijakan memang di bawah standard.

(diambil dari beranda komunitas)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants For Single Moms