Kabar Unik - kakong" Para pamiarsa kakung dumawah putri, pangapunten hambok bilih dangu kula boten post blog menika. "

Rabu, 11 Agustus 2010

NGEMCE LIRU KALPIKA / TUKAR CINCIN

1.Pambuka
2.Atur pambagya / sesambetan saking keluarga calon kadang besan , badhe katuran dening ..............

3.Atur panampi karawuhan calon kadang besan saking keluarga Bpk. ...... ingkang badhe dipun aturaken dening sinuwun Bapak ........

4.Adicara Liru Kalpika / tukar cincin, dumateng nimas...... dalah raden mas .... kapurih tumuju ing madyaning para tamu undangan kaderekaken bapa biyung kinasih.


SCENARIO OPERET ANDE-ANDE LUMUTEN

OPERET ANDE-ANDE LUMUTEN (by : poenk ) Prolog : Ada seorang mbok rondho Bangsri mempunyai anak hasil temuan yang diberi nama Ande-ande lumuten, karena saat ditemukan ia banyak lumutnya. AAL sedang mencari kekasihnya yang bernama Panji Asmoro Tangi. Kebetulan saat dia sedang tersesat ia ditemukan oleh mbok rondho, seorang petani dari desa Bangsri. Mengetahui kondisi AAL yang terus melamun dan susah, mbok rondho membuka sayembara agar apa yang diharapkan AAL segera terkabul. Anda-anda Lumuten segera menemukan kembali Raja Panji Asmoro Tangi. Sayembara itu diikuti oleh pangeran dari seluruh negeri Bangsri dan sekitarnya. Setelah melalui seleksi yang ketat akhirnya Anda-anda Lumuten menemukan kembali Raja Panji yang telah menyamar menjadi seorang gembel. 

Selasa, 10 Agustus 2010

Tentang Pengembangan Matematika

Poenk - Image negatif tentang pelajaran matematika oleh sebagaian besar siswa sangat perlu dihilangkan. Terutama oleh guru-guru Matematika itu sendiri. Banyak hal terkait yang mendukung berkembangnya image negatif tentang matematika. Yang sangat menonjol sekali adalah perolehan nilai Ujian Nasional yang selama ini sering menjadi unsur penghambat kelulusan siswa. Oleh karena itu, para pengajar pelajaran matematika harus selalu dan berusaha dalam pengembangan dirinya untuk mengatasi beberapa kendala tersebut. Salah satu langkah pengembangan pembelajaran dan kemampuan individu pengajar matematika adalah jangan sampai tertinggal dengan teknologi yang ada sekarang ini. Sekarang sudah bukanbagi  jamannya lagi seorang guru matematika yang tidak bisa menggunakan internet. Karena banyak hal terkait yang selama ini belum diketahui guru matematika, dapat didownload ataupun disadur dalam rangka peningkatan kompetensi guru Matematika. Dalam hal ini kementerian telah membuat situs yang erat sekalai dengan pengembangan ilmu Matematika ( klik P4TK Matematika ).
Selain Anda membuka situs P4TK Matematika, Anda bisa juga mencoba membuka blog milik MGMP  Matematika Kab. Malang. Mari kita tingkatkan terus prestasi anak di bidang Matematika. Semoga  tulisan ini berkenan. 

Selasa, 13 Juli 2010

Serba-serbi Workshop SSN 2010




Poenk Matematika - Hari Pertama

Saya dan Bapak Samiadi (Kepala Sekolah) , berangkat dari rumah jam 13.00 WIB, karena beranggapan pembukaan dilaksanakan pukl 16.00 WIB. Sampai di Karanglo ada teman Kepala Sekolah dan Penanggung Jawab SSN  ( Bpk. Sunardi dan Cak To ) SMPN 1 Ngantang bergabung untuk melanjutkan perjalanan. Setelah mengecek kondisi ban mobil di lawang, perjalanan pun dilanjutkan kembali.
Selama perjalanan, relatif kami lalui dengan aman dan lancar-lancar saja karena saat memasuki jalur lumpur Porong tidak mengalami kendala. Baru setelah memasuki Jalan Tol, ada sedikit perbedaan saat akan keluar pintu tol untuk menuju Hotel Singgasana yang terletak di daerah Gunungsari ini.
Mau keluar pintu tol Wonokromo mobil sudah terlanjur maju akhirnya diputuskan keluar lewat Darmo Satelit. Maslah yang muncul adalah pengambilan jalur saat akan menuju Hotel Singgasana, stelah beberapa kali bertanya akhirnya arah ke Hotel Singgasana telah ditemukan. Sampai di Hotel rombongan melapor ke panitia saat jam menunjukkan pukul 15.50 WIB. Dan sudah dioprak-oprak untuk ikut pembukaan.

Setelah session pembukaan dilalui kami bertiga ( Abah Sam, Pak Nardi dan Saya ) sudah menjelang magrib, kami kembali ke kamar setelah mengambil ,map jatah panitia. Yang ternyata peserta lain sudah melaksanakan makan malam. Saat kembali akan makan malam kami bertiga sudah siap dengan materi session pertama. Kami menuju ruang makan yang keadaan telah sepi. Di meja prasmanan  telah tertata berbagai macam makanan dengan berbagai macam lauk-pauk. Maslah yang timbul adalah saat kami mau makan ternyata tempat nasi sudah tidak ada isi nasinya. Akhirnya kami mengambil berbagai macam lauk dan mie sebagai pengganti nasi. Pokoke wareg, pikirku. Piring tak penuhi dan makan dengan lahap karena lauknya ada 5-6 macam. Namun setelah akan habis ada petugas hotel yang datang kami minta mengambil nasi. Jadi makanan kami tambah dengan nasi. Wah  tambah wareg(=kenyang) lah
Maunya tetap di ruang makan sambil menunggu  tetapi masih ada waktu 45 menit akhirnya kami kembali ke kamar. Abah Sam yang saat itu kehabisan  rokok bingung. Dan saya ke kamar untuk mengambil rokok. Stetlah di kamar saya dan Cakto membuat kopi untuk tombo ngantuk.

Rokok di Surabaya  ternyata lebih mahal dari pada di Arab Saudi.
Abah Sam yang sudah kehabisan rokok tidak sabar menunggu saya kembali mengambil rokok. Tetapi setelah tahu di lobi jual rokok Surya 12, Abah Sam beli satu bungkus. Setelah tanya berapa harga 1 bungkus rokok oleh petugas hotel di jawab Rp. 18.000,- Wow... bukan main kalau harga umum di luar Rp. 8.000,- di Surabaya naik Rp. 10.000,-
Padahal di Arab Saudi saat Hajian harga Surya sebungkus di kruskan rupiah Cuma Rp. 15.000,-
Setelah selesai session jam 21.00. WIB. Penghuni kamar 506 ini, yang notabene mau diperuntukkan panitia ini. Ada rencana keluar untuk jalan-jalan. Dari kami berempat ada tambahan 2 anggota ( Bang Edy dan P. Nurul ) dari SMPN 1 Gondang legi. Kami berenam keluar hotel menyusuri jalanan Surabaya  tanpa arah.

Jumat, 04 Juni 2010

Nunggu Ngeprit Cover

Jam berapa sekarang? aku tengok jam dindingku... weladalah..... ternyatadah jam 02.00 dini hari. Lakok aku belum tidur juga ya?. Aku kok ya lupa kalo di laptop juga ada jam. Malah lebih rinci lagi menitan menunjukkan angka 04  dari jam 2 tadi. Kulihat tumpukan kertas sebagai cover yang harus ku cetak  masih separo. Dan besuk mau tidak mau harus jadi semua. Kalau gak jadi gawat nih, kasihanpeserta Seminar besok. Materi jadi terbatas sekali. Dan mungkin bisa jadi gak kebagian materi.
Bener sih ini ini seminar gratis. Tapi yang namanya sudah mengundang tamu dan tamu adalah raja, mau tidak mau aku harus bantu bos infokepanjen.com mewujudkan cita-citanya. Yaitu , menularkan sebagian ilmu yang dimiliki kepada adik-adik siswa SMP dan SMA. Alhamdulillah kalau berguna juga untuk Guru pengajar dan semua peserta yang hadir. Ini yang membuatku betah tidak memejamkan mata.Rasanya aku gak sabar menunggu jalannya C.45 ku. jreg..jreg..jreg... walah lambat pool pokoknya. Tapi gimana lagi ini saja dah darurat. Printernya Bos juga dah ngadat. Tadi mulai jam 16.00 sampai jam 21.30 juga dah ngungsi ke SMAISAKA untuk pinjam printer. Rencananya, kita mau menyiapkan 160 set materi biar semua peserta kebagian. Tetapi bisa jadi materi akan berkurang karena ada cetakan yang terbalik.. Pas nyetak tinta habis dan yang lebih parah ya C45 ku ini. Pas tak tinggal sempat juga kertasnya terjepit. Pikirku mungkin ini ujian bagiku pribadi n Bos Infokepanjen.com yang ingin berbuat sosial.
Moga saja peserta bisa memaafkan  jika ada kekurangan dalam Seminar pertama Infokepanjen.com. Lho... lakok jam dah menunjukkan 02.20 menit. Yaw wis tak akhiri dulu ajalah... besok masih ada tugas di sekolah. Ngumpulkan tugas dan meluncur ke Santana Hotel. Kok ya gak klangopan ...padahal tadi juga tak tinggal lihat football clasic Argentina-Inggris ( 2-2) dan akhirnya adu pinalti dimenangkan Argentina.. Walah...nglantur...wis...wis... ndang tak terbitkan ae.




Minggu, 30 Mei 2010

Ngedumel masalah Sekolah RSBI

"Sekolah model opo iku?" koq jor-joran duit.. 
“Sekolah saiki pancen larang, Kang Doel." jawabku  sekenanya.
“ Lha biyen pas kampanye janjine pendidikan murah, endi buktine?! Nggedabrus kabeh.”
“Yo gak ngono Kang Doel,” kucoba menghibur.
“Ya mesti kudu sabar Kang,"
" Sabar apane... sabar taek kicek a? " swaraneKang Doel tambah banter.
" Sik-sik Kang, sak jane ono opo? " aku takon Kang Doel karo nyondoh. Kang Doel ndudut Gudang Baru teko kesake. Terus dislomot nggawe korek sing murupe nyentor mek nylomot lambene.
" Ngene lho Kik, wingi ponakanku kan daftar SMP Negeri , jarene SMP iku RSBI opo SBI ngono lho .. embuh wis aku gak ngurus BI-BI ikulah. Sing tak urus iku kok yo o.. duite nguras jeding, nek utang njiret gulu. Mosok SMP ae bayar sampek 12 juta.. duwit opo iku?" 
" Sing jarene kate  digawe tuku Lap karo Top, walah lawong durung riyoyo kok wis tuku lap karo top."  gremengane Kang Doel, aku mung ngrungokno thok.
" Lho..."
"Ojo lho-lho an Kik iki tenan," sanggahe Kan Doel.
" Trus aku wingi yo krungu jare kang Parto, nek anake mlebu SMA Negeri sing gek kono, sing jarene Paporit lakok yo podhoae. Jarene sekolahe wis gak mbukak sekolah koyok biasane.. sing guler"
" Reguler kang "
" Yo..yo guler iku.. jarene sing guler wis ganok. kabeh wis SBI.sak jane SBI iku opo se Kik?"takone Kang Doel nang aku karo nyedot udhute jero-jero
" Ngene lho kang, sekolah gek Indonesia iki lek jareku durung onok sing SBI, onoko yo RSBI artine Rintisan Sekolah Berbasis Internasional." kang Doel manggut-manggut.
" Biasane sekolah-sekolah ngene iki carane nyampekno pelajaran nggawe boso Indonesia yo boso Inggris. Mestine ngono Kang. Tapi kadang-kadang, statuse RSBI iki mek digawe alat Kepala Sekolaheae. Ono Kepala Sekolah sing gak ndelok SDM e guru-gurune wis wani nggawe RSBI. Lha  masalahe maneh, pemerintah wis ngatur nang peraturan, nek sekolah reguler ora biso narik biaya balas. Sing oleh narik biaya nang wali murid mek sekolah-sekolah SSN karo RSBI. Yo sik untung nek biayane sing ditarik teko wali murid mau digunakno tenanan kanggo keperluane siswa. Koyo to.. kabeh siswa gek mejone ngadhep komputer dewe-dewe. Dadi pembelajarane wis nggunakno teknologi."
" Lha nyatane yok opo hayo? " kang Doel nyronthol takon.
" Lha opoko kang?" takonku balik.
" Lha critane arek-arek gak ngono, komputere yo mek siji gek mejone guru thok. ikuae akeh guru-guru sing gak nggawe, lha digawe opo duwite sing 4,5 juta ditambah duwit-duwit liyane. SPP yo 250 ewu sak ulan.     "  Lek itung-itungan kasar kayok aku sing penggaweane neng rombengan ngene yo 250 ewu ping 300 lah. wis 75 juta iki sing kelas siji thok.. yo kan?"
" Bener Kang, pancen koyok-koyoke saiki mlebu Sekolah favorit koyok SMP karo SMA sing iki.. mek khusus digawe wong-wong ayak thok. Nek sampeyan karo aku yo duduk ukurane awake dewe.. awake dewe nrimoae kang, sing penting anak sampeyan karo anakku nek iso diwenehi ketrampilanae  sing iso nggo urip besuk nek wis gede."
" Wuih bener Kik, aku yo setuju pendapatmu.. gak usah mikir wawancara wali murid sing dikongkon ngisi sumbangan gedhe-gedhean terus sing gedhe duwite yo gedhe sekore.."
" Sampeyan kok ngerti Kang?" takonku
" Yo ngertilah.. mosok dumane ngrombengae gak ngerti. lha wong gek rombengan yo akeh sing podho crito."
" Wis kono ndang budhalo nyangkul Kik, jo mikir SBI-SBI an.. marahi mumet.. marahi setereeesss, aku tak makani pitik disik".
"Yo kang aku tak budhal.. dongakno oleh asil, yo".
 

Selasa, 11 Mei 2010

Lagu Bengawan Solo siapa penciptanya?

Solo: Indonesia yang kaya budaya kerap membuat iri negara lain. Bukan sekali saja budaya Indonesia diaku-aku negara lain mulai batik, reog Ponorogo, kuda lumping, angklung, bahkan rendang hingga tempe. Kini, Gesang, sang maestro keroncong ikut gigit jari setelah lagu Bengawan Solo ciptaannya diklaim empat warga Belanda.
Saat ditemui SCTV di kediamannya Solo, Jawa Tengah, Selasa (11/5), Gesang tengah dikunjungi sejumlah anak sekolah menengah atas. Para siswa sengaja datang untuk menghibur, Gesang pun diajak kembali ke masa kejayaan keroncong. Usia boleh 92 tahun tapi Gesang masih mampu menyanyikan bait-bait tembang Bengawan Solo.
Sang mastro keroncong memang terhibur, meski gundah masih menggelantung di kepala. Ada ganjalan di hatinya. Lagu Bengawan Solo ternyata didaftarkan oleh empat orang yang mengaku sebagai pencipta tembang legendaris itu. Belanda yang dulu mencoba merebut Tanah Air kini kembali mencoba merebut budaya nusantara.
Kenapa ini semua bisa terjadi?
Di jaman yang serba modern ini, memang gampang sekali mengubah HAKI yang semestinya dimiliki oleh sebuah negara maupun perorangan. 
Apa yang harus dilakukan pencipta dan pemerintah?
Pencipta harus segera mendaftarkan kekayaan / penemuan / hasil karyanya ke pihak terkait yang berwenang ( tanya pada mereka yang tahu saja) Di sinilah masalahnya, lawong saya juga nggak ngerti. Mungkin saja pencipta juga tidak mengerti harus kemana kalau ingin mendaftarkan HAKI tersebut.
Pemerintah harus membuka lebar-lebar bagi pencipta lagu ataupun karya asli Indonesia lainnya. Sehingga pencipta mudah untuk mendaftarkan HAKI nya tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar. Maslah lain adalah keterbatasan pengetahuan ataupun informasi yang dimiliki pemerintah, apakah HAKI yang didaftarkan tersebut benar-benar karya murni atau hanya jiplakan. Jangan-jangan setelah diberi label kepemilikan, HAKI tersebut sudah didaftarkan oleh orang lain atau bahkan negara lain. 
Bagaimana menurut Anda dengan kejadian seperti ini?

Jumat, 23 April 2010

ADIDANG-ADIGUNG-ADIGUNO

image
Bangsa Indonesia, termasuk juga orang Jawa, dikenal memiliki perasaan halus, serta tenggang rasa tinggi. Karena itulah mereka tidak menyukai orang sombong. Yaitu, orang yang congkak, pongah, angkuh, takabur, menghargai diri sendiri
berlebihan dan cenderung meremehkan (merendahkan) orang lain. Di Jawa, sombong dianggap sifat yang buruk (tak terpuji), dan sebaiknya dihindari karena akan jadi gangguan serius bagi komunitas dan lingkungannya.
Menurut pandangan masyarakat Jawa, orang sombong memiliki sifat sebagaimana unen-unen (peribahasa) yang berbunyi: 'adigang adigung adiguna'.
Artinya, sifat menyombongkan diri pada kekuatan, kekuasaan, dan kepandaian yang dimiliki. Adigang, adalah gambaran dari watak kijang yang menyombongkan kekuatan larinya yang luar biasa. Adigung adalah kesombongan terhadap keluhuran, keturunan, kebangsawanan, pangkat, kedudukan, atau kekuasaan yang dimiliki.
Diibaratkan gajah yang  besar dan nyaris tak terlawan oleh binatang lain. Sedangkan adiguna menyombongkan kepandaian (kecerdikan) seperti watak ular yang memiliki racun mematikan dari gigitannya.
Peribahasa ini mengingatkan bahwa kelebihan seseorang sering membuat sombong, lupa diri, sehingga berdampak buruk bagi  yang bersangkutan maupun orang lain. Contohnya kijang. Secepat apa pun larinya sering terkejar juga oleh singa atau
harimau, dan apabila sudah demikian nasibnya hanya akan menjadi santapan raja hutan tersebut.
Dalam dongeng anak-anak diceritakan pula bagaimana gajah yang besar itu kalah oleh gigitan semut yang menyelinap di celah telapak kaki, atau ketika kaki si gajah tertusuk duri. Sedangkan ular belang yang sangat ditakuti itu pun akan mati lemas, tulang-tulangnya remuk, jika terkena sabetan carang (cabang) bambu ori (Bambusa arundinaceae).
Jadi, kelebihan yang dimiliki seseorang merupakan sesuatu yang “berguna” sekaligus “berbahaya”. Berguna apabila dimanfaatkan demi kebaikan, berbahaya jika hanya digunakan untuk kepuasan pribadi serta dorongan nafsu duniawi belaka.
Contohnya, benda-benda tajam seperti pisau, sabit, parang, dan lain sebagainya. Sebuah pisau memang harus tajam agar mudah untuk mengiris daging atau sayuran ketika memasak. Namun, jika menggunakannya ceroboh dapat melukai jari tangan. Lebih dari itu, karena tajam, kuat, dan runcing, pisau dapur pun dapat disalahgunakan untuk membunuh orang.
Sebagaimana lazimnya strategi dalam kebudayaan Jawa, umumnya setiap peribahasa tidak berdiri sendiri dan sering berkaitan dengan peribahasa lain. Misalnya, adigang-adigung-adiguna punya korelasi erat dalam konteks menasihati
kesombongan dengan “aja dumeh”. Artinya: jangan sok atau mentang-mentang.
Terjemahan bebasnya adalah jangan suka memamerkan serta menggunakan apa yang dimiliki untuk menekan, meremehkan, atau menghina orang lain. Misalnya: aja dumeh sugih (jangan mentang-mentang kaya), dan menggunakan kekayaannya untuk berbuat
semena-mena.
Mengapa demikian, sebab harta kekayaan itu tidak lestari dan sewaktu-waktu dapat hilang (tidak dimiliki lagi). Aja dumeh kuwasa (jangan mentang-mentang berkuasa ketika menjadi pejabat/pemimpin) kemudian berbuat semaunya sendiri. Mengapa demikian, sebab jika masyarakat yang dipimpin tidak menyukai lagi yang bersangkutan dapat diturunkan dari jabatannya.
Di Jawa terdapat kepercayaan bahwa segala yang dimiliki manusia hanyalah titipan Tuhan. Dengan demikian  kepemilikan itupun bersifat fana. Tanpa keridaan (seizin) Tuhan, tidak mungkin yang bersangkutan memilikinya.
Selain itu, kekayaan yang dimiliki seseorang realitasnya juga diperoleh atas jasa (pemberian) orang lain. Contohnya, mana mungkin pedagang memperoleh laba dan kekayaan yang berlimpah tanpa melakukan transaksi dengan masyarakat? Berdasarkan pendapat di atas, peribahasa ini menasihatkan agar siapa pun jangan mempunyai sifat sok.
Mentang-mentang kaya menolak menyedekahkan sebagian hartanya untuk orang miskin. Mentang-mentang jadi pemimpin tidak mau bergotong-royong dengan tetangga. Menurut adat Jawa, sikap seperti itu sangat tercela dan menyakitkan hati orang lain.
Maka, dengan memadukan dua peribahasa di atas dimungkinkan pesan muatan yang disampaikan akan lebih dimudah diurai, di samping daya tembusnya juga makin kuat memasuki kesadaran pikir, rasa, dan hati sanubari.
Contohnya, nasihat tersebut akan berbunyi: “Aja dumeh sekti mandraguna banjur duwe watak adiguna kaya ula. Ora ketang wisane mandi, nanging kesabet carang pring ori wae bakal dadi bathang selawase.” (Terjemahan bebasnya: “Jangan mentang-mentang sakti kemudian berwatak seperti ular. Meskipun bisanya mematikan, tetapi kena gebuk cabang bambu ori saja akan menjadi bangkai selamanya.”).
Orang sombong dapat dianalogikan seperti kijang yang melintas di depan kerumunan singa atau harimau di tengah hutan,  seekor gajah yang sengaja menginjak-injak sarang semut atau semak perdu berduri, seekor ular yang sengaja atau tidak telah masuk ke halaman rumah orang di perkampungan.
Mungkin saja sekali dua kali selamat. Namun, untuk ke sekian kalinya kesombongan itu pasti akan menjadi batu sandungan yang membuat dirinya jatuh terjerembab mencium bumi dan tidak dapat bangkit kembali?

Metu saka uru-ura ngisep sepining hawa

JRONING uru-ara, kang ana mung sarwa ora nggenah lan ngajak bubrah. Sing dening wong akeh dianggep bener, jebul malah keblinger. Sewu laler padha ngrubung tembelek, apa tetep wae dianggep bener?!

Jroning tradisi Hindhu, ana kang diarani nyepi. Ora mung dhewekan, nanging ditindakake bebarengan, dipengeti lan dipersudi dening kabeh umat. Jroning nyepi, ora ana sing padha metu saka ngomah. Sawetara metu saka uru-ara lan gebyaring kadonyan sing kebak swara.

Ing kalangan umat Katolik-Kristen, ana retreat. Ing agama Buddha ana uga sing diarani Buddha reclining. Kanthi pasa lan iktikaf, kaum muslim uga duwe sarana kanggo mundur saka ìuru-araî-ning donya sing kebak tukar padu, cengkah, lan apa-apa sing bisa agawe bubrah.

Kanthi Kalatidha karyane pujangga agung Ranggawarsita bisa dadi kaca benggala tumrap jaman sing kebak uru-ara, jaman sing “rurah pangrehing ukara”. Sebab apa? “Karana tanpa palupi!” Merga ora ana sing bisa ditulad, ora ana sing pantes diconto jalaran kabeh-kabeh wis mletho.

Wektu terus lumaku. Uru-ara ora mendha nanging malah saya ndadra, selot ndadi. Pangarep-arep saya ora ganep bebarengan karo janji lan prasetya sing ora digondheli maneh. Sing ana mung mburu karepe dhewe, mburu kepenake dhewe, lan mburu benere dhewe. Katon banget yen padha kongas kalawan kasudiranira.

Wedhatama uga melu nggambarake pokal-polah kaya mangkono iku. Laras karo serat anggitane KGPAA Mangkunagara IV iku, kabeh padha “ngugu karsane priyangga”. Kabeh “nora nganggo peparah lamun angling”, ngomong ora nganggo waton, nanging waton muni. Senajan mengkono, ora gelem yen diarani isih kaya bocah Taman Kanak-kanak, “lumuh ingaran balilu”, kapara “uger guru aleman”.

Nggugu Karepe Dhewe

Amarga mung nggugu karepe dhewe, mula bener sing dibujung ya mung benere dhewe utawa bener kanggo golongane dhewe. Anggere disengkuyung dening wong akeh, dianggep bener. Iki sing ora mung ndadekake padha keblinger, nanging uga banjur nglairake mentalitas “massa”, massa sing kelangan daya kritise nalika ngadhepi apa wae. Bisane mung anut grubyug sanadyan ora ngerti rembug, kaya belo melu seton.

Kanthi pratelan sing luwih plastis, “malah mangkin andadra, rubeda kang ngreribedi, beda-beda ardane wong sanagara.”Banjur, yen kabeh padha rebut ngarep lan nyuwara sabanter-bantere, satemah dadi uru-ara, apa sing luwih prayoga ditindakake amrih ora karoban ing pawarta lolawara?

Kaya sing diandharake ing ngarep, temene saben agama wis nuduhake dalan kanggo ngadhepi saben uru-ara lan kahanan sing dibeberake. Saben kapitayan wis nuduhake cara kanggo narik dhiri saka salah kaprah sing dadi keblinger kolektif iki.

Kanthi mapanake Kalatidha minangka pancadan, ya kahanan sing kaya mangkono iku kang banjur ndadekake sapa wae sing isih kedunungan jiwa “parameng kawi”, bakal “kawileting tyas malatkung”. Sebab keperiye olehe ora, yen “tidhem tandhaning dumadi, ardayengrat dening karoban rubeda”. Banjur kudu kepriye? “Sageda sabar santosa, mati sajroning ngaurip,” pratelane Kalatidha kaya-kaya asung pawangsulan.

Kanthi mangkono, diajab bisa “kalis ing reh aru-ara, murka angkara sumingkir, tarlen meleng malatsih, sanityasa tyas mamasuh, badharing sapudhendha, antuk mayar sawatawis.”

Masterpiece-e Ranggawarsita mau wis mratelakake, “wahyaning arda rubeda, ki pujangga amengeti”. Kepriye cak-cakane? Mesu cipta mati raga, mudhar warananing gaib.

Sakeplasan, tetembungan mau ora gampang disumurupi dening wong akeh. Nanging intine cetha: ngresiki batin saka pikiran-pikiran ala, lan meper sakehing karep kanthi “mateni” raga. Kanthi “mesu cipta”, rasa lan karsane mesthi dadi positif. Kathi mateni raga, bakal saya sentosa batine. Kanthi mateni raga, kanthi mati sajroning urip, mengkone bakal bisa nggayuh urip sajroning pati. Yen wis bisa mengkono, nadyan kudu ngadhepi ura-ara kaya ngapa wae mesthi ora bakal gampang kelune.

Kanthi mangkono uga, ora bakal angel anggone meruhi “sasmitaning sakalir”. Persis kaya sing  diandharake ing Kalatidha: “ruweding sarwa pakewuh, wiwaling kang warana, dadi badaling Hyang Widdhi, amedharken paribawaning bawana.”

Bebanda

Rekadaya nggayuh sepining hawa, satemah kuwawa ngadhepi uru-ara, dudu tanpa pepalang. Gedhene melik lan ora ngrumangsani marang jejere dhewe, mujudake pepalang sing gedhe. Tetembungan “melik barang kang melok” mujudake pepeling supaya wong ora kebanda dening pepinginane dhewe. Sebab, pepenginan iku sing tundhone bakal njurung marang tumindak apa wae. Mergane, melik nggendhong lali. Yen wis kedunungan melik, adhakane banjur lali marang sakabehing pepacuh lan pitutur.

Kontrol dhiri, temene uga bisa ditindakake kanthi “ngilo githoke dhewe”. Paradoks kesane. Sebab, ing tata lair, piye bisane wong ngilo marang githoke dhewe yen ora nganggo kaca pengilon rangkep. Angel, nanging ora ateges mokal. Iki uga perangan sing ora bisa ditinggalake jroning nyepi. Sacara internal, pancen kudu sentosa, lagi bisa ngambah njaba.

Gegayutan karo melik, Wedhatama asung pepeling, mligine sing (kudune) wis ngancik tataraning kadewasan: wis tuwa arep ngapa, muhung mahas ing ngasepi, supyantuk parmaning Suksma.

Tuwa pancen mung tibaning umur. Yen ora sinartan pangudi, sing ana mung “sepa sepi lir sepah samun”. Kosokbaline, yen nglungguhi marang sepuhe, mesthi sepuh kuwi dadi sepining hawa.

Pancen, nyepi ora kandheg ing tata lair wae. Yen biyen, supaya bisa nyentosakake budi, kudu kanthi ngambah laladan sepi utawa teteki, mlebu guwa sirung munggah gunung. Nanging saiki, kudu bisa nyepi jroning krameyan, bisa tapa ngrame.

Apa maneh prasyarate? Mangasah mingising budi, memasuh malaning bumi! Marang diri pribadine, kudu wani nglantipake cipta, rasa, lan karsanane. Kanthi mangkono ora ulap marang sakabehing kang dumadi, ora gampang keguh marang sawernane kahanan. Ora keli, nanging saora-orane ngeli.

Beberangen karo kuwi ora bakal wedi marang kahanan kang dumadi. Ora wedi ora ateges ngawur, ora ateges nekad, nanging wis linambaran sepining hawa, ora melik maneh marang kang melok jalaran wis mati sajroning ngaurip. (35)

Senin, 19 April 2010

Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan

Pembelajaran aktif (active learning) tampaknya  telah menjadi pilihan utama dalam praktik pendidikan saat ini. Di Indonesia, gerakan pembelajaran  aktif ini terasa semakin mengemuka bersamaan dengan upaya mereformasi pendidikan nasional. Gerakan perubahan ini terus berlanjut hingga sekarang dan para guru terus menerus didorong untuk dapat menerapkan konsep pembelajaran aktif dalam setiap praktik pembelajaran siswanya.
Beberapa kalangan berpendapat  bahwa inti dari reformasi pendidikan ini justru terletak pada perubahan paradigma pembelajaran dari model pembelajaran pasif  ke model pembelajaran aktif.
Merujuk pada pemikiran L. Dee Fink dalam sebuah tulisannya  yang berjudul Active Learning, di bawah ini akan diuraikan konsep dasar pembelajaran aktif.  Menurut L. Dee Fink, pembelajaran  aktif  terdiri dari  dua komponen utama yaitu: unsur pengalaman (experience), meliputi  kegiatan melakukan (doing) dan pengamatan (obeserving) dan dialogue, meliputi dialog dengan diri sendiri (self) dan dialog dengan orang lain (others)
http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2010/04/active-learning.gif?w=600
Dialog dengan Diri (Dialogue with Self) :
Dialog dengan diri adalah bentuk belajar dimana para siswa melakukan berfikir reflektif mengenai suatu topik. Mereka bertanya pada diri sendiri, apa yang sedang  atau  harus dipikirkan, apa yang mereka rasakan dari topik yang dipelajarinya. Mereka “memikirkan tentang pemikirannya sendiri, (thinking about my own thinking)”, dalam cakupan pertanyaan yang lebih luas,  dan tidak hanya berkaitan  dengan aspek kognitif semata.
Dialog dengan orang lain (Dialogue with Others) :
Dalam pembelajaran tradisional, ketika siswa membaca buku teks atau mendengarkan ceramah, pada dasarnya mereka sedang  berdialog dengan “mendengarkan” dari orang lain (guru, penulis buku), tetapi sifatnya sangat terbatas karena didalamnya tidak terjadi balikan dan pertukaran pemikiran. L. Dee Fink menyebutnya sebagai “partial dialogue
Bentuk lain dari dialog yang lebih dinamis adalah dengan membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil (small group), dimana para siswa dapat berdiskusi  mengenai topik-topik pelajaran secara intensif. Lebih dari itu.,  untuk melibatkan siswa ke dalam situasi dialog tertentu, guru dapat mengembangkan cara-cara kreatif, misalnya  mengajak  siswa untuk berdialog dengan praktisi, ahli, dan sebagainya. baik  yang berlangsung di dalam kelas maupun di luar kelas, melalui interaksi langsung  atau secara tertulis.
Mengamati (Observing) :
Kegiatan ini terjadi dimana para siswa dapat melihat  dan mendengarkan ketika orang lain “melakukan sesuatu (doing something)” , terkait dengan apa yang sedang dipelajarinya. Misalnya, mengamati guru sedang melakukan sesuatu.  Guru olah raga yang sedang memperagakan cara menendang bola yang baik, guru komputer yang sedang membelajarkan cara-cara browsing di internet, dan sebagainya,
Selain mengamati peragaan yang ditampilkan gurunya, siswa juga dapat diajak untuk mendengarkan dan melihat dari orang lain, misalnya menyaksikan penampilan  bagaimana cara kerja seorang dokter ketika sedang mengobati pasiennya, menyaksikan seorang musisi sedang memperagakan kemahirannya dalam memainkan alat musik gitar, dan sebagainya.  Begitu juga siswa dapat diajak untuk mengamati fenomena-fenomena lain,   terkait dengan topik  yang sedang dipelajari,  misalnya fenomena alam, sosial, atau budaya.
Tindakan mengamati dapat dilakukan secara “langsung” atau “tidak langsung”. Pengamatan langsung artinya siswa diajak mengamati kegiatan  atau situasi nyata secara langsung. Misalnya, untuk mempelajari seluk beluk kehidupan di bank, siswa dapat diajak langsung mengunjungi bank-bank yang ada di daerahnya. Sedangkan pengamatan tidak langsung, siswa diajak melakukan pengamatan terhadap situasi atau kegiatan melalui simulasi dari situasi nyata, studi kasus atau diajak menonton film (video). Misalnya  unruk mempelajari seluk beluk kehidupan di bank, siswa dapat diajak menyaksikan video tentang  situasi  kehidupan di sebuah bank.
Melakukan (Doing):
Kegiatan ini menunjuk pada proses pembelajaran di mana siswa benar-benar melakukan sesuatu secara nyata. Misalnya, membuat desain bendungan (bidang teknik),  mendesain atau melakukan eksperimen (bidang ilmu-ilmu alam dan sosial), menyelidiki sumber-sumber sejarah lokal (sejarah), membuat presentasi lisan,  membuat cerpen dan puisi (bidang bahasa) dan sebagainya. Sama halnya dengan mengamati (observing), kegiatan “melakukan” dapat dilaksanakan secara langsung atau tidak langsung
Terkait dengan upaya mengimplementasikan konsep di atas,  L. Dee Fink  menyampaikan 3 (tiga)  saran, sebagai berikut:
1. Memperluas jenis pengalaman belajar.
  • Buatlah  kelompok-kelompok kecil siswa dan meminta mereka membuat keputusan atau menjawab sebuah pertanyaan terfokus secara berkala.
  • Temukan cara agar siswa dapat terlibat dalam berbagai dialog otentik dengan orang lain,  di luar  teman-teman sekelasnya (di website, melalui email, atau dalam kehidupan nyata).
  • Dorong siswa untuk membuat jurnal pembelajaran atau portofolio belajar. Guru dapat meminta para siswa untuk  menuliskan  tentang apa yang mereka pelajari, bagaimana mereka belajar, apa peran pengetahuan yang dipelajarinya untuk kehidupan mereka sendiri, bagaimana hal ini membuat mereka merasa, dan sebagainya.
  • Temukan cara untuk membantu siswa agar dapat mengamati sesuatu yang ingin dipelajarinya, baik  secara langsung maupun tidak langsung.
  • Temukan cara yang memungkinkan siswa untuk benar-benar melakukan sesuatu yang dipelajarinya, baik  secara langsung maupun tidak langsung.
2. Mengambil manfaat dari “Power of Interaction.”
Dari keempat bentuk belajar di atas, masing-masing memiliki nilai tersendiri, tetapi apabila keempat bentuk belajar tersebut (Dialogue with Self, Dialogue with Others, Observing, dan Doing) dikombinasikan secara tepat, maka akan dapat memberikan efek belajar yang lebih kaya kepada para siswa.
Para pendukung Problem-Based Learning menyarankan kepada para guru untuk mengawalinya dengan kegiatan “Doing”, dimana guru terlebih dahulu  mengajukan berbagai masalah nyata (real problem) untuk diselesaikan oleh siswanya.  Kemudian, siswa diminta untuk berkomunikasi dan berkonsultasi dengan rekan-rekan sekelompoknya (Dialogue with Others) untuk menemukan cara-cara terbaik guna  memecahkan masalah nyata yang  telah diajukan. Setelah para siswa saling berkomunikasi dan berkonsultasi, selanjutnya para siswa akan melakukan berbagai macam bentuk belajar sesuai pilihannya, termasuk  didalamnya melakukan Dialogue with Self dan Observing.
3. Membuat dialektika antara pengalaman dan dialog.
Melalui pengalaman (baik melalui doing dan observing) siswa  memperoleh  perspektif baru tentang apa yang benar (keyakinan) dan apa yang baik (nilai). Sementara melalui dialog dapat membantu siswa  untuk mengkonstruksi berbagai makna dan pemahamannya.
Untuk menyempurnakan prinsip interaksi sebagaimana dijelaskan di atas yaitu dengan melakukan dialektika antara kedua komponen tersebut. Dalam hal ini, secara kreatif guru dapat mengkonfigurasi dialektika antara pengalaman baru yang kaya dan mendalam dengan dialog yang bermakna, sehingga pada akhirnya siswa benar-benar dapat memperoleh pengalaman belajar yang signifikan dan bermakna
Sumber:
Terjemahan bebas dan adaptasi dari: L. Dee Fink. 1999. Active Learning

13 Penyakit Guru

Berdasar penelitian, ada 13 penyakit yang rentan diderita oleh GURU, diantaranya :
1. TIPUS : TIdak PUnya Selera
2. MUAL : MUtu Amat Lemah
3. KUDIS : KUrang DISiplin
4. ASMA : ASal MAsuk kelas
5. KUSTA : KUrang StrAtegi
6. TBC : Tidak Bisa Computer
7. KRAM : Kurang TRAMpil
8. ASAM URAT : Asal Sampaikan Materi Urutan Kurang Akurat
9. LESU : Lemah Sumber
10. DIARE : Di kelas Anak-anak Diremehkan
11. GINJAL : Gajinya Nihil Jarang Aktif dan Lambat
12. DIABED : Datang Inginnya Absen Tok Baru Kemudian Etung2 Duit
13. STROKE : Suka Terlambat Rupanya Sudah Kebiasaan
Mana penyakit kronismu? Jangan tunda berobat ya....



Jumat, 16 April 2010

KORAN DINDING DAN MAJALAH DINDING

Oleh : Poenk

Di Indonesia, dengan adanya kebebasan pers  yang dimulai sejak kepemimpinan Gus Dur, telah memunculkan  banyak sekali media masa umum yang baru terbit.  Media masa itu beragam jenisnya. Diantaranya ; koran , tabloid , majalah, jurnal , buletin , virtual News. Dari jenis koranpun dapat dibedakan ada harian pagi, harian sore. Sedangkan dari jenis majalah ada yang terbit mingguan juga ada yang terbit dua minggu sekali.  Melihat keadaan tersebut, kita dapat menarik kesimpulan betapa ruginya bagi kita generasi muda yang no tabene usia SMU kalau tidak mempergunakan kesempatan yang ada.

Kalau melihat kenyataan, di sekolah-sekolah negeri maupun swasta sudah banyak yang memberikan wadah berupa papan Mading / kording guna memberi kesempatan kepada siswa- siswanya melatih kata , bahasa maupun karya cipta. Jika memamndang secara umum , memang tidak semua orang itu sama. Ada orang yang mampu menuturkan kata dengan lugas pada saat berdakwah ataupun pidato, namun bagaimana kemampuan menulis dalam artikel kurang begitu pintar. Pintar disini dapat diartikan bagaimana seorang penulis bisa.membawa pembaca untuk mengikuti alur dari permasalahan yang disampaikan. Ada pula  orang yang tidak bisa pidato maupun dakwah tetapi  dalam menyajikan sebuah karya tulisan sangat runtun dan enak dibaca dimengerti dan dipahami.

Kembali kita pandang hal yang lebih sempit Menilik keberadaan Papan Mading/Kording yang ada di sekolah-sekolah,  menurut penulis, masih banyak kerancuan  antara Isi Kording dan Mading itu sendiri.

Untuk itu, guna menambah wawasan siswa, terutama yang berminat untuk menekuni jurnalistik, kami berikan
perbedaan antara Koran Dinding dan Majalah Dinding , sebagai berikut :
   
No
Kording
Mading

1.
2
3
4
5
6
7
8
9


Nama,Visi ,Edisi, Hari
Head Line (HL)
Foto Head Line (HL)
Foto Pendukung
Opini
Susunan Redaksi
Straits News
Feature
Tajuk Rencana


Nama,Visi ,Edisi
News In Dapth
Pengantar redaksi
Rubrikasi
Foto-foto


Bentuk yang diperoleh dari isi mading dan kording itu disajikan dalam bentuk mirip majalah  dan mirip koran,
namun keduanya mempunai kesamaan menempel di dinding. ( poenk)


    

Inikah Namanya Cinta



by: Poenk Poerwa

Pak Jon, Kali pertama aku harus ngeliat nya, uh suebeel  banget.  Nggak tertarik sama sekali. Apalagi saat ia berdiri di depan ruang kuliah, Wow. Amit-amit jabang bayi. Dua kali lebih Suebeelnya. Tapi gimana lagi, dengan terpaksa aku harus mengikuti kuliah yang menjadi tugasnya. Meski terasa menjemukan en ngeboseni tapi harus gimana lagi, lha wong kuliah itu syaratnya wajib. En nggak ada sunah-sunahan.

Sampai pada satu saat aku dengar temanku lagi ngerasani Pak Jon.  Katanya sih cara ngajarnya enak , pinter dan masih banyak sanjungan-sanjungan yang lain. Aku cuekin saja mereka.   Tapi yang aku rasain sih tetep rasa yang itu-itu juga. Sebel dan gimana gitu. Memang selama ini yang aku rasakan pelajaran yang satu ini begitu menekan perasaanku . Seperti yang sering aku rasakan oleh dampratan papa en mama ku yang hadir setia setiap saat. Bak iklan rexona di stasiun tivi swasta.

Hari demi hari aku lalui. Satu Semester telah terlewati. Saat aku terima hasil studi eh nilaiku kok selalu bagus. Padahal rasa-rasanya nggak biasa aku terima hasil yang nayamul agak best itu. Waduh, b’tapa senengnya  hatiku.
Kali lain aku dengar, celoteh temen-temenku tentang pak Jon. Katanya, Pak Jon ini  lain cara ngajarnya dengan pengajar yang lain. Cara njelasin begitu jelas dan terinci apalagi sering diselingi dengan gaya kocak serta humor yang tinggi. Yang terkadang membuat beberapa temen merasa malu saat menjawab pertanyaan .

Hari berikutnya:
Temenku Resdi, ngebincangin lagi tentang Pak Jon. Kalau aku pikir, Ia sangat mendambakan orang seperti Pak Jon. Sampai-sampai saat Pak Jon duduk di bangku sebelah Yossy. Resdi sering ngeliriknya  dan ada perasaan cemburu.
“  Pak Jon kok mesti duduk di situ  ? “ gerutu Resdi dengan kesal dan cemberut .
“ Memangnya ngapain Res, Kan, bangku yang kosong hanya di situ ? !” jawabku sekenanya sambil terus ngerjain soal statistik yang baru saja dijelasin Pak Jon.
“ Tapi, yha gantian  dong duduk sama aku lah sesekali!”, cetus Resdy sewot.
Sebenarnya apa yang dirasain Resdy, sama dengan apa yang aku rasakan.  Sejak seringnya temen-temen menyanjung Doski , aku sering juga ngerasain keinginan yang sama . Waktu  demi waktu  berlalu begitu saja. Tiap kali aku ngerasa seperti ada yang ingin aku tanyain  en ceritain ama Pak Jhon. Meski terkadang pula aku ngerasain sendiri, kalo’ pertanyaanku  agak menyimpang dari materi yang diberikan semata-mata hanya ingin bertanya.  

Semakin-lama timbul juga rasa kangen dalam diriku, apabila tidak ketemu Pak Jhon . Apalagi semenjak Pak Jon dalam menyampaikan materi mengubah metodenya.  Pak Jon berganti metode dengan menggunakan  nilai Point, artinya siapa yang bisa dulu , dialah yang dapat point.
 Wow, ternyata aku sangat seneng juga, bisa  ngikutin cara yang ini. Aku t’rus berusaha mendahului temen-temenku ngerjakan lebih dahulu selesai meski harus bersaing sama teman-teman.

Pada saat, Pak Jhon memberi kesempatan pada siswa yang kesulitan, bisa datang ke kost-annya. Aku segera tanggap. 
“ Kesempatan yang bagus “ pikirku. Sejak itu aku en Ully temen karibku yang lain datang ke kost-kostan Pak Jhon untuk sekedar  belajar . Mendingan dari pada ngebayar guru privat yang lain.

Tapi resiko yang aku dapet adalah olokan temen-temen, tentang nilaiku yang lumayan. Mereka enggak tahu bahwa apa yang ku dapet adalah murni hasil jerih payahku. Aku sendiri ngerasain , aku en Ulva nggak pernah diberi tahu tentang materi ujian yang akan diberikan, itu memang sudah prinsip Pak Jhon.
“ Kasihan temanmu yang lain “ begitu katanya , saat aku coba cari bocoran ulangan.
  
Aku menyadari ,Ulva lebih pandai daripada aku , en aku tahu dia juga lebih cantik dari padaku. Kelemahannya hanya terkadang dia  punya rasa malu yang kelebihan .
“ Lumayan” , pikirku.
“ Ah, biar saja,” perasaanku acuh pada Ulva. meski setiap kali aku datang bersama Ulva ke kostan Pak Jhon, selalu aku yang ngetuk pintu . en, Tak jarang juga ,aku kebentur pegangan kursi yang ada di pojok ruangan .Terkadang, pada saat aku waktunya pulang rasanya berat untuk segera beranjak dari kostan Pak Jon. Tapi Ulva selalu melihat jam dinding di atas gambar monalisa. Jadi aku terpaksa pergi juga ninggalin kostan Doski.
Ada rasa  grogi, hati berdebar kencang en rasa serba kikuk . Apalagi saat tatapan Doski menatap tajam ke arahku .
Adapula rasa kangen, rasa rindu, bila jam pelajaran Pak Jon kosong, Wow, kecewanya hatiku, dongkol .dan emmbboh lah  ding

Kini, aku tak tahu apa yang mesti kuperbuat. Aku selalu ngebayangin wajah Pak Jhon guru idolaku. Guru yang juga dijadikan Idolanya oleh teman-teman putriku. Rasa-rasanya aku terlanjur sayang en jatuh hati sama Pak Jon yang  begitu baik dan sabar setiap menjawab pertanyaanku. Dalam hati ini aku bertanya-tanya,  Inikah yang namanya cinta ..namanya cinta ?
Aku merasa berada di antara langit dan bumi. Di dalam awan putih berarak yang mengalir mengikuti arah tiupan angin, yang tak tahu hendak kemana langkah kakiku kan berpijak .

Dalam lamunan, ku dengar sebuah lagu nostalgia nya Arie Koesmiran :
“Jhon kau bagai gelombang ,  kudiam kau benci, kukejar kau lari

Engkau menyakitkan hati
bila kuharapkan dirimu
Engkau bagaikan gelombang bila kuharapkan dirimu.
Apakah yang engkau inginkan
Apakah yang engkau harapkan dariku
Katakanlah..katakanlah.     

Medio, Agust’00.
  

PRANATA CARA SIRAMAN CALON PINANGANTEN


Ngabekten
Katuran dumateng Bapa dalah biyung kinasih lenggah ing damper ingkang sampun katata kanti laksana. Bapa lenggah ing sakiwa tengening penganten.
Sakderengipun jinamas ing warih, Ni mas Calon temanten putrid ing ngarsanipun Bapa dalah biyung kinasih nyuwun idi pangestu dalah nyuwun agunging pangaksama mring ingkang rama miwah biyung kinasih. Awit calon temanten putrid badhe lumebet ing bebrayan enggal.

Tangkeping asta sarwa sumembah ing pepedaning ingkang rama dalah biyung, Calon temanten putrid hangaturaken :
 Rama dalah biyung kinasih, kula ngaturaken sungkem pangabekti saha nyuwun agunging pangaksama sedaya kalepatan kula, sarta nyuwun tambahing pandonga pangestu anggen kula badhe dhaup palakrama kaliyan Kang Mas …………………..

Ngger, nini putraku, dak tampa pangabektimu. Wis dadi kewajiban wong tuwa loro manggulo wentah kowe yo ngger putraku, Yen ono nakale lan wangkaling anak iku wis lumrah. Ora ono kaluputan sing kok sandang, kalamun lego lilo aku lan ibumu paring pangapuro. Dak paringi pangestu anggonmu arep jejodoan, tak dongakno  mring Gusti kang Mahakuwasa mugo-mugo bgyo mulyo uripmu sempulur nganti sak lawase.

Sanadyano mboten namung meniko ingkang putra sumungkem ing pepadanira ingkang rama dalah biyung. Nanging raosing penggalih ingkang rama dalah biyung satuhu beda.  Tatkala sinembah pepadane, kadya sinendhal mayang bathine. Trenyuh jroning wardaya. Trenyuhing nala ingkang datan sinayudan, satemah rama dalah biyung kuwawa ngamaph tumetesing waspa. Luh marawayan, tumetes tinampi kanthi lumahing asta mring kang putra. Minangka pratandha tumuruning nugraha, bilih ingkang rama dalah biyung ingkang sampun paring idi palilaah, miwah pangestu dhumateng kang putra henggenira arsa dhaup palakrama.
Paripurna ngabekti ing pepdanira ingkang rama kakung dalah biyung kinasih, Kang Putra calon temanten mring ingkang rama dalah biyung lumampah tumuju sasana jamas pasiraman.

Amrih samekta miwah gangsar samudayanipun, keparenga kula aturi uninga bilih ingkang badhe paring jamas pasiraman samangke inggih menika, para pepundhen, para pini sepuh, pitu cacahipun. Pinilih gunggung pitu amrih risang calaon pinanganten putri tansah pikantuh pitulungan, kinasih ing sasama, cinaket mring Gusti.

Para pepundhen dalah pinisepuh ingkang kula aturaken kala wau inggih menika :
1.  RamaKakung Heriyantoyo
2.  Biyung Heri
3.  Eyang


Keparenga dumateng para pepundhen, para pinisepuh kasuwun pangestunipun paring jamas pasiraman dhumateng risang calon pinananganten putri.

1.  Ingkang sepindhah paring jamas pasiraman nun inggih Rama kakung Heriyantoyo kanthi kebak ing pangati-ati, sarwa sarwi binarung donga suci lumebering toya waradung saranduning sarira risang ahayu. Ancles kadya siniram tirta sawindu, mahanani, ayem,temtrem sajroning kala.

2.  Ing kaping kalehipun, kasuwun ibu biyung kinasih paring pangestu sesuci, age-age marepegi ingkang putri. Kebak ing sutresna, jinamas ing warih risang calaon pianganten putri. Waradin ing sarira saking pucuking rikma dumugi samparaning ahayu.

3.  Salajengipun keparenga ingkang Eyang, nun inggih Eyang ................................. paring pangestu dhumateng wayah, kanthi pangestu suci dhiri karana paring jamas pasiraman toya suci perwita adi. Ketang tresnaning eyang marang wayah, sakderengipun angguyur toya paring puji pandonga rahayu. Kanthi pianringan toya perwita sari mugiya calon pinanganten putri hayem, tentrem, kadya pinaringan pangayoman risang ahayu mring ingkang eyang dupi piaringan pamuji donga miwah siniram ing warih suci.

4.  Katuran dumateng.......
Mugi risang ahayu saged kasawaban mring kawegigan miwah kawicaksanan. Satemah ing tembe saged kasil ing babagan pakaryan

5.  Katuran dumateng ibu........... paring jamas pasiraman, mugi Calon pinanganten putri sageta nderekaken sun tuladanaipun ibu.....

6.  Keparenga ibu........... mugi calon pinanganten saged nulad mring ibu...............

7.   Ingkang pungkasan kasuwun dumateng ibu ....................... paring idi pangestu dalah  paring jamas pasiraman, mugya pinanganten putri saged handerekaken hambangun kulawarga ingkang bagya mulya.

Jangkep pitu cacahe para pepundhen paring jamas pasiraman. Mugi-mugi suci lahir lan bathine risang ahayu satemah mdhep mantep anggenipun calon pinanganten ing dinten benjang badhe nglampahi upacara suci sarta sakral agung inggih punika adicara palakrama. Mawantu-wantu Bapak/Ibu Heri ngaturaken agunging panuwun ingkang tanpa pepindhan, Muhung Gusti Kang Maha mirah ingkang badhe males luhuring budi panjenengan sadaya. Amin.

SESUCI MECAH KEDHI
Saklajengipun Bapak Heri paring toya sesuci ingkang mijil saking telengih kendhi pratala. Kendhi wus ngarani wadhah, pratala ateges lemah. Ilining toya boten pedhot mratandahani. Sempulur ing karahayon, sempulur anggenipun kagungan kersa, sempulur ing sandang, bogam, donya brana. Kanthi sesucen menika, mugi-mugi risang ahayu anggenipun badhe ngayahi wajib, kalis ing godha rencana, kalis ing sambikala, hamung rahayu kang bakal tinemu.  

Pangkas Rikma
Titi laksana salajengipun nun inggih Bpk Heri arsa mangkas rikmane ingkang putri.
” Niat ingsun ngethok rikmamu nduk putriku, muga-muga dadiya pratandha sempuluring tuwuhmu, wilujeng, ahayu, wiwit saiki putriku wis dewasa uwal saka pangkoning rama lan ibu”
    Pangkasan rikma winadhah ing mok, tinampi dening ingkang ibu. Mugi risang ahayu nyembadani kekudanganipun ingkang rama miwah ibu kadidene sasmita pangkas rikma nun inggih wiwit samenika risang ahayu samekta bawa priangga kalamun sampun kulawarga mangun gesang tembayatan kaliyan ingkang garwa,

Pondhongan
    Rama kakung tumindak bopong pungkasan, ingkang paring sasmita hambok bilih  ing dinten menika rama kakung saged mbopong putrinipun ingkang pungkasan.
    ” Niat ingsun mbopong putriku, iki dadiya bopong kang pungkasan, sabanjure putriku bisa bawa  priyangga urip tembayatan karo garwamu, kacukupan ing sandhang boga, bisaa nemu mulya lan raharja ”.

Nanem Rikma
” Niat ingsun nanem rikmane putriku, kabeh lelakon kang kepungkur wis kapendhem, hamung thukula kabecikan tumraping bebrayan, rahayu, widada, nir ing sambi kala ”.

Dulang pungkasan
”  Niat ingsun ndulang putriku, pamujiku dulangan iki dadiya dulangan kang pungkasan. Ing sabanjure putriku bisaa madeg ing pribadine dewe, nampa kanugrahaning Gusti, dadiya pangayoming sasana, sempulur ing salawase, widada, nir ing sambikala

Sade Dhawet
   Kawuryan Bpk/Ibu Heri sampun miyos saking panti. Ibu Heri ngindhit wakul minangka wadhahing arta asiling sade dhawet. Dene ingkang garwa nenggih Bapak Hery ngasta songsong, kang wus sawega paring pepayung mring kang garwa. Ateges dadi wong tinitah kakung mono kudu bisa paring pengayoman mring ingkang garwa amrih ingkang tinitah wadon ayem, tentrem, kalis saking was sumelang .

    Sarwa-sarwi Ibu Hery mundhut dhawet, dhawet kaaturaken Bapak Hery.
    ” Bapakne, piye rasane ? ”
    ” Enak tenan , Bune ”

   Rame anggenaira antri samya mundhut dhawet,  dadya pratandha kalamun ing dinten benjing, rawuhipun para tamu antri dalidir kadya kang samya mundhut dhawet.

    Sarwa-sarwi mirah, hanggenira Ibu Hery sade dhawet, dhawete ayu, manis ing rasa, mila samya suka pari suka ingkang samya antri badhe mundhut dhawet. Mboten wonten ingkang kuciwa ing rasa, snmya suka ing nala.

    Kajawi punika, sdayan dhawet ugi dados pratandha bilih bpk/ibu Heri suka dene mring sesami. Satemene sapa wonge murah mring sasama, bakal pinaringan murah mring Gusti kang Maha Kuwasa.

    Makaten napa ingkang saget kula aturaken wonten adicara Siraman menika, mboten kesupen kula ing ngriki minangka sesulihipun ingkang hamengku gati, ngambali atur sugeng rawuh sinartan atur agunging panuwun ingkan tanpa pepindang rehning panjenengan para tamu sampun minangkani pamundhutipun Bpk/Ibu Heri.    

    Para rawuh para lenggah,
    Dening kula nindakaken urut reroncenipun adicara, milai purwa dumugi paripurna tartamtu kathah kekirangananipun ugi kekilafan kula, mila menika kula namung nyenyadhong lumunturing sih samodra pangaksama dumateng ingkang hamengku gati ugi panjenengan sedaya, labed budi daya kula manungsa. Nuwun.

Tuladha Pranata Cara Panggih Pinanganten


PAMBUKA
Sampun dumugi wahyaning mangsa kala dhumawahing kodrat, sri atmaja temanten hanetepi upacara adhat widhi widana ingkang sampun sinengker wonten tlatah dusun  Ngajum Kadipaten Malang.
Nun inggih upacara panggih, adhat mengku werdhi tata cara, widhi werdhinipun Gusti. Winengku werdhi luhur tata cara peparingipun Gusti ingkang Maha Agung, ingkang dados pratandha werdhinipun panggih punika pangudi gambuhing panggalih. Mila mboten mokal  wonten titahing Gusti ingkang asipat Jalu lawan wanita ingkang sumedya hanetepi jejering agesang.

 

ING NGARSA REGOL

 Wondene temanten putri sampun jengkar saking tepas wangi pinurwaka kembar mayang sakembaran, dasar putrinipun Bapak Moh. Nabillah
Ingkang  dinama-dama , putra sulistya ing warni tinambahan ngagem busana putri praja nambahi sulistyaning warna, saengga ing dalem pasamuan kadya katingal surem katanding endah gumebyaring temanten putri.

HAMBALANG GANTAL
Saya caket tindakira putra temanten kekalih, gya samya apagut tingal, tempuking catur netra handayani pangaribawa ingkang hambabar manunggaling nala kang tumanem ing sanubari.
Sekar mayang temanten kakung dalah temanten putri sampun niliroaken.
nulya kumlawe astane tenganten putri sarwi hambalang gantal mring temanten kakung ingkang winastan gondhang kasih, temanten kakung gumanti hambalang gondhang tutur, ingkang makaten punapa ta wujud miwah werdhinipun gantal? Gantal dumadi saking suruh ingkang lininting tinangsulan lawe wenang, pinilih suruh ingkang tinemu rose ingkang mengku werdi
Suruh : lamun dinulu beda lumah lawan karebe yen ginigit tunggal rasane. Mugya temanten kekalih tansah rumaket manunggal cipta, rasa miwah karsa. Tinangsulan lawe wenang werdhinipun tinangsulan lan akrami, kaiket ing prasedya luhur, mugi anggenya mangun bebrayan mboten nalisir saking hangger paugeraning kautaman.

 

HAMIDHAK KUNTOLO

Ni mas temanten putri sampun lenggah sowan ing ngarsa dalem temanten kakung dalah hanglepas tepak alas sukunipun temanten kakung. Lumantar astanipun temanten putri, temanten kakung tumindak hamidhak kuntolo kanti remuk gumebyar miwah alas siti.
Ingkang punika paring sasmita bilih temanten kakung sampun gilig ing manah, badhe lujar saking gesang ambujang, ngrasuk hamengku gesang bebyaran.

 

GANDHENG ASTA

Temanten kakung pareng candhak bahunipun temanten putri kaajak jumeneng sesarengan .
Sasampunipun tinemu catur netra temanten kekalih,  ing madya para rawuh dipun pandhegani dening pini sepuh juru paes, astanipun temanten kekalih kagandheng ajawat asta, kanthi pinaringan dunga mugi-mugi tansah tinebiha bala rubeda nir ing sambikala.

TUMUJU DAMPAR KENCANA

Tindakira sri atmaja temanten kekalih gya siningeban  sindur dening ingkang rama kakung kinasih,
Wodene rama kakung temanten putri jumeneng ing ngarsa temanten kakalih  kagandheng  dipun singepi sendhur, ingkang wonten sawingking ipun keparenga biyung kinasih dalah astanipun tumangkep wonten  pundak temanten kekalih. Lumampah tumuju dampar kencana.

 

SUNGKEMAN

Adicara ingkang candak inggih punika adicara sungkem temanten kekalih dumateng Tiyang sepah, ingkang punika paring sasmita ngaweruhi wujud bektinipun temanten dumateng tiyang sepah kekalih.Sarana sungkem ing saandhap tapak suku rama kakung dalah biyung putri.
Pinanganten :
Rama kakung dalah Ibu biyung kinasih, luhuring budi ingkang hangukir jiwa raga ingkang agung pangurbanan paring pitedah luhur rina wengi tansah ngangesti mrih rahayuning putra lulus kang ginayuh sadaya ribet rubeda linambaran kanthi sabaring panggalih tuhu pantes sinambah .
Bapa biyung :

Duh angger putraku kinasih sun tampa panyungkemira mugya antuk berkahing Hyang Widhi angonira jejodhoan. Piwelingku aja nganti lali anggon ira hambangun bak wisma runtut  atut sakarone-adohno tukar padu –tansah eling sabaring ati – kuwat nampa panandhang – tan gampang amutung dadiya tepa tuladha – uripira migunani mring sesami – hayu-hayu pinanggiha

 

KACAR-KUCUR

Kalampahan adicara ingkang candak inggih punika kacar-kucur.
Iarupi, wos, saha kacang-kacangan
Ingkang taksih rupi wiji, ingkang punika paring sasmita bilih temanten kekalih menika taksih bakalan, mugya wiji ingkang bade katandur sageta dados wiji ingkang sae, sahengga temanten saget nglampai gesang bebrayan milai babat alas dumugi gesang kaken ninen ninen.

UNJUK TIRTA WENING
Wondene Ing ngriki panjenengan ipun Ibu biyung ingkang hamengku gati paring unjukan tirta wening dumateng temanten kekalih. Ingkang punika paring sasmita mbok bilih sedaya tindak tanduk ipun temanten ingkang badhe kalampahan supadasa  linambarana kanthi weninge penggalihing temanten kekalih.



DHAHAR SEKUL KUNING

Kacandhakaken adicara dhahar sekul kuning : Bapa biyung paring dedhaharan sarana sarining bumi kang arupi sekul kuning kang aran sekul panjang ilang, paring sasmita mugya temanten anggeneya nglampahi gesang wonten ing alam bebrayan , temanten kakung anggadhahi  kewajiban hanyekapi sedaya kabetahanipun gesang sampun ngantos kirang tedhan tumuju dumateng angen-angenipun kara harjan.
Kanthi Pangajapipun Rama dalah biyung  biyung : Mugi gampila gebyaring husada , anggenya ngupadi, sanguning gesang, ambyaring kuntala ingkang tumiba wonten pelatan, panggiha bagya mulya sembada kang jinangka basuki kang kaesti. Amin !

RAWUHING BESAN

Samekta rawuhipun kadang besan sarimbit saking tlatah ................. bapak ............. sarimbit ngaturaken sugeng rawuh mugi sageta ndadosaken raketing pasederekan.
Sasampunipun katampi rawuhipun Bapak .......... sarimbit hangaturaken salam taklim kanti hamasrahaken rawuhipun kaki dalah nini pinanganten kekalih ingkang badhe marak seba nyuwita dumateng ngarsa Bapa  biyung kInasih, inggih punika Bapak Tukiyat dalah biyung Tumi kinasih.


ATUR PASRAH TEMANTEN
Nuwun para rawuh ingkang tuhu kinurmatan, langkung rumiyin keparenga kula nuwun agunging pangaksami, hambok bilih kula kagalih sangeting degsura saha cumantaka, dene kumawantun sumela atur tuwin nyandet keparenging para rawuh ingkang taksih gayeng among sabda wonten ing pepanggihan punika.
Ingkang makaten kala wau, sarehning kula ingkang kadhapuk dados pranata adicara kajibah matitisaken titi laksana ning adicara punika.

Minangka purwaning atur keparenga kula ngaturaken sungkeming pangabekti ing sa-andhap pepadha kunjuk dalem Gusti ingkang Maha Agung, ingkang tansah paring kanugrahan dumateng kita sedaya saha paring idi palilah ugi pengayoman dumateng ingkang hamengku karsa, nun inggih BapakTukiyat sarimbit.
Ingkang wedal puniko saget ngawontenaken pepanggihan ing dinten menika kanti rahayu widodo mboten kirang satunggaling punapa.
Kajawi saking punika, katur asmanipun ingkang hamengku karsa keparenga  kula ngaturaken pambage sugeng rawuh saha ngaturaken sanget panuwun ingkang tanpa pepindan wondene panjenengan  sedaya sampun kersa minangkani atur ingkang sampun kapacak wonten ing serat atur undangan, ingkang sampun kunjuk dumateng panjenengan sedaya. Inggih punika bilih ing samangke panjenenganipun Bapak Budi sarimbit kagung an kersa badhe andhaup aken putri kinasihipun ingkang paring asma Visi Triastutik kapundhut garwa dening anakmas Moh. Hantono putra kakung ingkang minulya bapak Muchid - Gatot saking tlatah Batu

Para rawuh saha para lenggah ingkang kinur matan.
Kepareng matur bilih samangke sarawuhipun pinanganten kakung, para lenggah katuran jumeneng minangka paring pakurmatan saha paring berkah pangawasta dumateng pepanggihan pinanganten kekalih.
Sinambi  ngrantos dhawah wanci rawuhipun pinanganten kakung, keparenga ken para rawuh anglajengaken anggenipun kepareng among sabda saprayoginipun sinambi angresepi dhedaharan ingkang sampun cumawis ing ngarso panjenengan sedaya. Nuwun !
Sampun dumugi mangsa kala mbok bilih pinanganten kakung sampun tindak saking dalem palereman, kadherekaken para kadang sentana puri kakung. Gebyar-gebyar cahyaning dasar gagah pidhegsa kathik karengga busananing putra praja gung binantara kang sarwa mobyor-mobyor adamel cingaking para pandulu ing samarga-marga, jer sampun dados giliging tekating pribadi badhe hamengku garwa ingkang dados gemblenging raos katresnan mila katingal jumangkah mantep tan kemba ing panggalih nambahi gagah prakasa.



ATUR ADICARA PASRAH  TEMANTEN

Nanik Mulyati
Putri Bapak MujionoAlm)
Wijianto
Putra Bapak

1. Salam , Alim ulama  
    ingkang kawula    taati
2. Puji syukur
3. Kirim salam dumateng   
    Nabi.
4.    Atur  pambagya - pasrah  temanten  Dening   


5.    Atur panampi  pasrah
Temanten dening
 
6.  Hikmah nikah  dalah paring do’a pangajab     
     Katindhakaken dening …………………………….
     mugya temanten kekalih anggenya gesang bebyaran tansah pinaring rahayu widodo, tinambah rejeki sarta sageta dados temanten ingkang dumugi kaken ninen. Nuwun.
















Bismillah hirrahman nirrahim
Hamdan …

Para pepundhen, para sesepuh, para pini sepuh ingkang hanggung mastuti dhumateng pepoyangan kautaman ingkang pantes pinundhi, para kadang duta saraya saking calon / kadang besan minangka cundhaka ingkang pantes kinurmatan, para kadhang wredha mudha ingkang winantu basuki, para lenggah kakung putri ingkang satuhu bagya minulya.
Pinangka purwaning atur sumangga nun tansah kula dherekaken ngaturaken puji syukur wonten ngarsa dalem Gusti Allah ingkang maha Agung, karana sih wilasa miwah barokah ingkang rumentah dhumateng panjenengan sadaya dalasan kula, saengga ing rikalenggahan punika taksih saged kempal manunggal kanthi pinayungan rahayu widodo dalah karaharjan tinebih ing sambikala.
Mboten kasupen, sumangga kula dherekaken ngaturaken shalawat saha salam mugi-mugi tansah katur kunjuk dumateng junjungan kita rosullullahi saw. Ingkang sampun paring pitedah dhumateng kita sadaya, satunggaling ajaran ingkang leres ingkang dipun ridhoi dening Allah SWT.  
Para lenggah kakung putri ingkang sinuba pakurmatan, madyaning pepanggihan punika keparenga kula ngaturaken sugeng rawuh, awit karawuhan para pepundhen miwah para pini sepuh langkung-langkung para kadang duta saraya tresna, sinarengan raos panuwun ingkang tanpa pepindhan mugi keparenga panjenengan kasuwun lelenggahan kanthi mardu mardikaning panggalih. Sinambi ngraosaken dedhaharan ingkang sampun kacaosaken dening ingkang hamengku gati.
Nun inggih para lenggah ingkang sinuba ing pakurmatan, keparenga kula ngaturaken urut reroncening adi cara ingkang rinamtam para kulawangsa.
Nun inggih Tinarbuka :
1.       Atur Pambuka
2.       Waosan kalam Illahi
3.       Atur pambagyaharjo dalah pasrah pinang anten.
4.       Atur panampi pinanga nten
5.       Mauridho hasanah Teman ten
Katindakeken dening
6.   Doa pangajab

Handungkap titi mangsa kala pari purnaning sedya, karana urut reroncenipun tata adicara sampun kaleksanaaken dening para kulawarga.
Para tamu kakung putri ingkang satuhu bagya mulya, sakderengipun purnaning gati panjenenganipun Bpk Slamet sakulawarga, raos syukur dumateng Gusti kang Maha Agung kaleksananing sedya kanthi pinaringan wilujeng nir ing sambikala, mboten wonten kekilapan ngaturaken panuwun dhumateng panjenengan sedaya, ingkang punika Ibu sumardi tansah hanglenggana budi dayaning manungsa kirang sampurna, hambok bilih anggenipun nampi karawuhan panjenengan sedaya wonten kiranging tanggap, tangguh, gupuh miwah suguh saha anggenipun ngaturi palenggahan panjenengan sadaya kirang hanuju prana kalihan andhap inggiling kalenggahan panjenengan sadaya, kagerba kiranging boja miwah krama, mugi diagung pangaksama panjenengan.
   
Lan ugi mugi-mugi temanten kekalih saget dados temanten ingkang kusnul khotimah, mawadah, warohmah. anggenya gesang bebyaran tansah pinaringan rahayu widodo, tinambah rejeki sarta sageta dados temanten dumugi kaken ninen. Nuwun. Wass.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants For Single Moms