Kabar Unik - kakong" Para pamiarsa kakung dumawah putri, pangapunten hambok bilih dangu kula boten post blog menika. "

Jumat, 16 April 2010

Inikah Namanya Cinta



by: Poenk Poerwa

Pak Jon, Kali pertama aku harus ngeliat nya, uh suebeel  banget.  Nggak tertarik sama sekali. Apalagi saat ia berdiri di depan ruang kuliah, Wow. Amit-amit jabang bayi. Dua kali lebih Suebeelnya. Tapi gimana lagi, dengan terpaksa aku harus mengikuti kuliah yang menjadi tugasnya. Meski terasa menjemukan en ngeboseni tapi harus gimana lagi, lha wong kuliah itu syaratnya wajib. En nggak ada sunah-sunahan.

Sampai pada satu saat aku dengar temanku lagi ngerasani Pak Jon.  Katanya sih cara ngajarnya enak , pinter dan masih banyak sanjungan-sanjungan yang lain. Aku cuekin saja mereka.   Tapi yang aku rasain sih tetep rasa yang itu-itu juga. Sebel dan gimana gitu. Memang selama ini yang aku rasakan pelajaran yang satu ini begitu menekan perasaanku . Seperti yang sering aku rasakan oleh dampratan papa en mama ku yang hadir setia setiap saat. Bak iklan rexona di stasiun tivi swasta.

Hari demi hari aku lalui. Satu Semester telah terlewati. Saat aku terima hasil studi eh nilaiku kok selalu bagus. Padahal rasa-rasanya nggak biasa aku terima hasil yang nayamul agak best itu. Waduh, b’tapa senengnya  hatiku.
Kali lain aku dengar, celoteh temen-temenku tentang pak Jon. Katanya, Pak Jon ini  lain cara ngajarnya dengan pengajar yang lain. Cara njelasin begitu jelas dan terinci apalagi sering diselingi dengan gaya kocak serta humor yang tinggi. Yang terkadang membuat beberapa temen merasa malu saat menjawab pertanyaan .

Hari berikutnya:
Temenku Resdi, ngebincangin lagi tentang Pak Jon. Kalau aku pikir, Ia sangat mendambakan orang seperti Pak Jon. Sampai-sampai saat Pak Jon duduk di bangku sebelah Yossy. Resdi sering ngeliriknya  dan ada perasaan cemburu.
“  Pak Jon kok mesti duduk di situ  ? “ gerutu Resdi dengan kesal dan cemberut .
“ Memangnya ngapain Res, Kan, bangku yang kosong hanya di situ ? !” jawabku sekenanya sambil terus ngerjain soal statistik yang baru saja dijelasin Pak Jon.
“ Tapi, yha gantian  dong duduk sama aku lah sesekali!”, cetus Resdy sewot.
Sebenarnya apa yang dirasain Resdy, sama dengan apa yang aku rasakan.  Sejak seringnya temen-temen menyanjung Doski , aku sering juga ngerasain keinginan yang sama . Waktu  demi waktu  berlalu begitu saja. Tiap kali aku ngerasa seperti ada yang ingin aku tanyain  en ceritain ama Pak Jhon. Meski terkadang pula aku ngerasain sendiri, kalo’ pertanyaanku  agak menyimpang dari materi yang diberikan semata-mata hanya ingin bertanya.  

Semakin-lama timbul juga rasa kangen dalam diriku, apabila tidak ketemu Pak Jhon . Apalagi semenjak Pak Jon dalam menyampaikan materi mengubah metodenya.  Pak Jon berganti metode dengan menggunakan  nilai Point, artinya siapa yang bisa dulu , dialah yang dapat point.
 Wow, ternyata aku sangat seneng juga, bisa  ngikutin cara yang ini. Aku t’rus berusaha mendahului temen-temenku ngerjakan lebih dahulu selesai meski harus bersaing sama teman-teman.

Pada saat, Pak Jhon memberi kesempatan pada siswa yang kesulitan, bisa datang ke kost-annya. Aku segera tanggap. 
“ Kesempatan yang bagus “ pikirku. Sejak itu aku en Ully temen karibku yang lain datang ke kost-kostan Pak Jhon untuk sekedar  belajar . Mendingan dari pada ngebayar guru privat yang lain.

Tapi resiko yang aku dapet adalah olokan temen-temen, tentang nilaiku yang lumayan. Mereka enggak tahu bahwa apa yang ku dapet adalah murni hasil jerih payahku. Aku sendiri ngerasain , aku en Ulva nggak pernah diberi tahu tentang materi ujian yang akan diberikan, itu memang sudah prinsip Pak Jhon.
“ Kasihan temanmu yang lain “ begitu katanya , saat aku coba cari bocoran ulangan.
  
Aku menyadari ,Ulva lebih pandai daripada aku , en aku tahu dia juga lebih cantik dari padaku. Kelemahannya hanya terkadang dia  punya rasa malu yang kelebihan .
“ Lumayan” , pikirku.
“ Ah, biar saja,” perasaanku acuh pada Ulva. meski setiap kali aku datang bersama Ulva ke kostan Pak Jhon, selalu aku yang ngetuk pintu . en, Tak jarang juga ,aku kebentur pegangan kursi yang ada di pojok ruangan .Terkadang, pada saat aku waktunya pulang rasanya berat untuk segera beranjak dari kostan Pak Jon. Tapi Ulva selalu melihat jam dinding di atas gambar monalisa. Jadi aku terpaksa pergi juga ninggalin kostan Doski.
Ada rasa  grogi, hati berdebar kencang en rasa serba kikuk . Apalagi saat tatapan Doski menatap tajam ke arahku .
Adapula rasa kangen, rasa rindu, bila jam pelajaran Pak Jon kosong, Wow, kecewanya hatiku, dongkol .dan emmbboh lah  ding

Kini, aku tak tahu apa yang mesti kuperbuat. Aku selalu ngebayangin wajah Pak Jhon guru idolaku. Guru yang juga dijadikan Idolanya oleh teman-teman putriku. Rasa-rasanya aku terlanjur sayang en jatuh hati sama Pak Jon yang  begitu baik dan sabar setiap menjawab pertanyaanku. Dalam hati ini aku bertanya-tanya,  Inikah yang namanya cinta ..namanya cinta ?
Aku merasa berada di antara langit dan bumi. Di dalam awan putih berarak yang mengalir mengikuti arah tiupan angin, yang tak tahu hendak kemana langkah kakiku kan berpijak .

Dalam lamunan, ku dengar sebuah lagu nostalgia nya Arie Koesmiran :
“Jhon kau bagai gelombang ,  kudiam kau benci, kukejar kau lari

Engkau menyakitkan hati
bila kuharapkan dirimu
Engkau bagaikan gelombang bila kuharapkan dirimu.
Apakah yang engkau inginkan
Apakah yang engkau harapkan dariku
Katakanlah..katakanlah.     

Medio, Agust’00.
  

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Grants For Single Moms